Saat malas atau demotivasi, masuk kelas jarang, tugas dikerjakan hampir tenggat waktu. Tapi tetap saja, lebih baik aku tidak selesai mengerjakan atau tidak memenuhi tugas yang diminta dibanding menyalin tugas teman. Catat itu, menyalin.

Advertisements

Pantau Kesempatan yuk!

Hampir setiap malam sebelum tidur, hampir tidak pernah kulepaskan galaxy note 8 inci ku itu. Ada hal-hal yang harus aku lihat, ya sebelum aku tidur. Hampir setiap hari seperti itu, sebelum tidur pasti aktivitas browsing dilakukan dulu. Lalu apa yang aku browsing, mari aku ceritakan ya.

1. Twitter: @kampusupdate

Screenshot 2014-11-25 at 00.19.15

2. Website: ayoikut.com

Screenshot 2014-11-25 at 00.19.26

3. Website: seputarkampus.com

Screenshot 2014-11-25 at 00.19.55

4. Website: studentcompetitions.com

Screenshot 2014-11-25 at 00.47.25

Empat saluran informasi di atas selalu aku pantau terlebih dahulu sebelum tidur. Kenapa harus sebelum tidur? Ya sederhananya karena yakin kalau informasi-informasi yang ada akan terangkum secara lengkap saat malam hari, gitu. Mengerti tidak? Yaudahlah kalau tidak mengerti, memang ada hal-hal yang tidak harus dimengerti kok hehehe. Aku suka sekali stalking empat saluran informasi diatas karena beberapa alasan.

– Opportunities: Kesempatan itu banyak sekali

Aku sangat bersyukur dengan melihat 4 saluran informasi tadi, aku jadi tahu kalau kesempatan itu banyak sekali kalau kita mau cari tahu dan ‘buka mata’ selebar-lebarnya. Ya kesempatan banyak macamnya ada kesempatan magang, beasiswa, lomba nasional, lomba internasional, rekrutmen volunteer, apapun itu. Beragam sekali, dari acara yang biasa-biasa saja sampai kesempatan yang prestisius. Betapa banyaknya kesempatan yang bisa kita ambil kalau kita mau. Alhamdulullah.

Courage : “There is only one thing that makes a dream impossible to achieve: the fear of failure” – Paulo Coelho

Aku sendiri semakin sadar, kalau sebagai mahasiswi semester 5, aku belum punya prestasi apa-apa. Melihat banyak teman-teman di kampus dan senior-senior berprestasi, rasa eksistensiku tentu saja bergolak, ‘aku nggak mau kalah.’ Jadilah setelah melihat empat saluran informasi di atas, kelakuan selanjutnya adalah pilah-pilih mana hal yang paling kusuka dan mau ku ikutin. Bisa jadi berdasarkan hadiah yang diberikan, bisa jadi karena kesempatan itu membuka jalan ku untuk bisa pergi ke luar negeri, dan sebagainya. Setelah misalnya aku putuskan untuk mengikuti suatu lomba, mulai deh ku hasut teman-temanku untuk menjadi tim hehehe. Hal yang pertama ku bayangkan sebenarnya bukan hadiahnya, tapi aku bayangkan Mama Papa ku pasti bangga. Pokoknya Mama ku nggak akan pernah menyesal pernah melahirkan aku dan Allah Swt pasti bangga lihat ciptaannya-Nya mau berusaha dalam kebaikan. Insya Allah. Yah, walaupun aku tahu aku belum pasti menang, aku bukan yang paling pintar, bukan yang paling cerdas, tapi yang aku tahu aku mau berusaha dan belajar.

Note to my self : Kadang aku sendiri rakus dengan kesempatan-kesempatan yang ada di depan mata. Rasanya semua mau diikuti, seolah lupa kalau utamanya kuliah dan ada organisasi yang juga menunggu. Salah satu contoh kasusnya adalah saat aku menerima broadcast tentang dibutuhkannya orang untuk menempati posisi sponsorship dari suatu acara dengan fee nya jutaan rupiah tergantung performa kerja. Wah, dengan rasa percaya diri tingkat dewa dewi Yunani, ku hubungi contact personnya dan langsung aku ketik bahwa aku mau mengisi posisi tersebut. Biasanya setelah mendaftarkan diri pada suatu hal, aku telaah lagi kira-kira tanggung jawab apa yang bertambah, kira-kira manajemen waktu seperti apa yang harus kuperbaiki, apakah harus ku kurangi waktu nonton drama korea? Atau waktu tidur? Pastinya bukan waktu beribadah dong. Nah, saat itu saat aku menelaah kembali, ada temanku, ku tanyakan saja pada temanku dan intinya dia menjawab kalau kamu rasa kamu sudah banyak kegiatan ya tidak perlu tambah lagi. Sambil ku ingat-ingat kegiatan, akhirnya ku putuskan untuk tidak menduduki posisi sponsorship tadi. Huhuhuhu, sedih sih, gegabah sekali bukan? Itu sama saja aku memberikan harapan palsu ke orang lain, duh maafkan aku dan kerakusan aku akan kesempatan ini ya huhu.

Aku berpikir, mana yang mau ku raih. Kualitas atau kuantitas? Kualitas aku fokus dan maksimal dalam mengikuti beberapa hal atau kuantitas yang aku ambil dalam banyak hal? Eh, benar tidak sih pikiranku? Tidak tahu sih ya, kan ini blog aku, ajdi terserah aku mau tulis apa hihihihihi. Gitu deh, jadi aku harap semua orang yang sudah ‘melek’ kesempatan bisa selalu introspeksi diri dalam mengambil tiap kesempatan. Amiin.

00.41 am

*tryingmychromebookedition

Moneychanger Ayu Masagung & Mencari Turkish Lira

I. Mencari Turkish Lira di Moneychanger Ayu Masagung

Memiliki mata uang sebuah negara adalah harus saat kamu mau pergi ke suatu negara. Ya bisa jadi kalau kamu mau ke salah satu negara di Eropa, kamu hanya perlu bawa Euro, tak perlu repot menukarkan ke mata uang Zloty kalau mau ke Polandia atau Rubel kalau mau ke Rusia. Eh benar kan ya yang aku tulis tadi? Benar lah ya hihi. Lain hal nya kalau kamu ke negara lain selain di benua Eropa. Waktu aku mau ke Turki, aku sedikit kebingungan mencari Turkish Lira (TL). Setelah gooling aku jadi tahu kalau di Turki juga bisa pakai Euro, tapi kalau kita pakai Euro nanti saat kita beli sesuatu harganya bakalan jadi lebih mahal. Lagipula lebih aman punya TL lah ya, iya nggak? Iya aja dong. Hehe.

Berbekal rupiah di dalam tas, aku pun pergi ke moneychanger di Kwitang, Jakarta Pusat. Namanya PT. Ayu Masagung yang berlokasi di Jl. Kwitang No. 38 Jakarta, nomor teleponnya di (021)3103375. Kenapa aku ke moneychanger tersebut, simpelnya karena Mama yang bilang kalau tukar uang ya disitu saja. Jadi gini, 2010 lalu saat aku dan Mama mau pergi ke suatu negara, Mama minta aku untuk tukar uangnya ya di moneychanger PT. Ayu Masagung. Karena Mama selalu bisa diandalkan, akupun selalu percaya pilihan Mama. Oh iya, akhirnya karena rasa ‘kepo’ aku yang cukup besar, aku googling mengenai PT. Ayu Masagung. Beberapa sumber menyebutkan bahwa moneychanger tersebut memang dipilih karena rate nya tidak jauh berbeda dengan rate dari Bank Indonesia. Hemm, kalau kamu tanya rate itu apa, aku juga bingung rate itu apa hehe. Kalau sepengetahuanku yang tidak seberapa ini, rate itu adalah seberapa besar nilai tukar mata uang yang satu dengan mata uang lainnya. Gitu ya, kalau salah gapapa ya. Hiks.

Beberapa hal kalau kamu mau ke moneychanger PT. Ayu Masagung:

1. Bawa uang cash sejumlah yang kamu mau, tidak usah berpikir mau ambil di ATM. Karena di tempatnya tidak ada ATM, harus menyebrang dulu, jalan dulu gitu kalau mau ke ATM. Untuk aku yang saat itu sedang buru-buru rasanya kok ya ATM tuh jauh banget.

2. Ternyata PT. Ayu Masagung hanya menyediakan mata uang umum seperti US Dollar, GB Poundsterling, Euro, Japanese Yen, Korean Won, dan beberapa mata uang lain yang aku tidak hafal. Jadi? Jadi apa? JADI TIDAK ADA TL. Duh Ya Allah, sedihnya. Pelajaran penting, adalah kamu harus telepon dulu moneychanger yang kamu tuju ya siapa tahu mata uang yang kamu cari tidak ada, atau mata uang yang kamu cari ada namun persediaannya habis.

3. Kalau kamu dalam keadaan belum shalat, tenang saja! Moneychanger yang menjadi satu gedung dengan Toko Buku Gunung Agung memiliki mushalla kok di Lantai 4. Kalau kamu lapar juga ada salah satu restoran fastfood dalam gedung yang sama. Ya kalau kamu lapar ‘ilmu’ tinggal beli buku saja hehehe.

4. Santai saja kalau datang ke moneychanger ini sekitar jam 12-an, karena di moneychanger ini tidak ada waktu istirahat loh.

Nah, jadi bagaimana nasib pencarian TL ku ini? Aku pun googling mengenai dimana moneychanger di Jakarta yang menyediakan TL. Hasilnya sih ada beberapa moneychanger yang menjual TL, tapi kok ya halaman situsnya agak tidak meyakinkan. Akhirnya aku telepon saja kedutaan besar Turki untuk informasi yang lebih jelas. Kira-kira begini percakapannya ya.

Si Mbak Kedutaan : Halo, Selamat Siang.

Aku : Siang Mbak, saya mau tanya kalau mau tukar uang menjadi Turkish Lira kemana ya? Kok saya ke moneychanger di Kwitang dibilang Lira tidak tersedia.

Si Mbak Kedutaan : Oh, memang kalau di moneychanger ya tidak ada.

Aku : Oh jadi aku harus menukarkan uang dimana ya?

Si Mbak Kedutaan : Jadi, di Indonesia memang tidak ada perjanjian yang menyebutkan bahwa Turkish Lira beredar di Indonesia. Sehingga Mbak harus menukarkan uang di Turki langsung.

Aku : Oh gitu ya Mbak. Makasih banyak.

Si Mbak Kedutaan : Ya, sama-sama.

Hiks, jadi aku harus ke Turki ya untuk mendapatkan TL. Berhubung rupiah tercinta ini baru laku di dunia saat aku nanti jadi menteri, hehe, aku akhirnya kembali lagi ke moneychanger dan menukarkan uangku dengan Euro.

Hemmm, aku masih harus menukarkan uang lagi nih ternyata huhu, karena aku dikasih uang lagi sama Nenek aku, katanya takut aku disana terlantar. Huhuhu Alhamdulillah, betapa bersyukurnya aku, Nenekku masih punya rezeki bahwa untuk memberikan rupiah ke cucunya ini. Lalu dimana dong aku menukar uang tambahan itu? Tenang saja, di Bandara Soekarno-Hatta tepatnya terminal 2D ada kok moneychanger yang bukanya 24 jam. Saat aku menukarkan uang saja sekitar jam setengah 4 pagi. Kalau kamu tanya rate nya, hem aku tidak tahu, aku agak buru-buru. Tapi seingat aku rate nya biasa saja kok, tidak merugikan.

II. Mendapatkan Turkish Lira

Saat aku transit di Hamad International Airport di Qatar, aku bergegas mencari moneychanger untuk menukar Euro milikku menjadi TL. Setelah bertanya, aku menemukan moneychanger bernama ‘Travelex’. Kayaknya ini moneychanger cukup bonafide, counternya saja rapi dan bagus, petugasnya pakai jas kerja dan sigap (sepertinya). Langsung saja kukeluarkan uangnya Alia, Alia itu temanku yang bersama aku mau ke Istanbul hehe. Ternyata saudara-saudara, saat aku menerima TL kok aku merasa TL nya agak sedikit berkurang ya dari yang aku harapkan. Saat itu aku sudah googling terlebih dahulu, sehingga aku tahu kalau 1 USD = 2,28 TL. Kesimpulannya rate di Travelex tidak bagus, tidak ramah turis.

Travelex

Tuh lihat tuh. Kalau di google 1 USD = 2,28 TL, di Travelex 1 USD = 1,78 TL. Uh sebal, kesal, sedih. Jadilah aku tidak menukarkan uang aku semuanya, iya dong kan tidak mau rugi. Terus bagaimana dengan Alia? Huhuhu maaf Al, aku sudah terlanjur tukar uang. Aku juga sudah bilang ke Alia kok dan dia biasa aja, yeay!

Ohiya main sedikit hitung-hitungan yuk. Jadi ini perbandingan kalau kamu mendapat rate 1 USD = 2,28 TL dibanding dengan 1 USD = 1,78 TL. Dengan berbekal 300 USD kamu bisa mendapat:

– 684 TL dengan rate google.

– 534 TL dengan rate Travelex

Kan, benar kan, aku saja tidak usah pakai kalkulator sudah bisa menebak saat itu. Huhu. Jadi dimana dong cari Turkish Lira? Oke, mari aku ceritakan penggalan kisah kepulangan aku ke Indonesia. Jadi aku juga sudah googling dan aku jadi tahu kalau sebelum pulang sebaiknya kita tukarkan TL yang kita miliki ke USD atau Euro. Ya karena di Indonesia tidak ada penukaran mata uang TL, nanti sayang uangnya kalau memang sisa banyak. Akhirnya aku dan Alia mencari-cari moneychanger di Ataturk International Airport. Ketemu kok Alhamdulillah, ya memang moneychangernya tidak se-bonafide Travelex. Biasa saja. Tapi rate nya luar biasa! 1 USD = 2,22 TL. Tuh tuh tuh! Beda tipis dengan hasil dari google. Jadi kalau mau TL dengan rate bagus, tukarkan dulu rupiahmu ke Euro atau USD, tunggu sampai    di Ataturk International Airport dan carilah moneychanger disitu. Oh iya, aku juga menemukan 2-3 moneychanger lain di Ataturk International Airport dan aku lihat baik-baik papan yang menunjukkan rate nya. Alhamdulillah, rate nya hampir sama semua dengan rate yang dari google.

Happy Moneychanger-ing!

Visa ke Turki

Salah satu persyaratan masuk ke sebuah negara adalah memiliki visa. Visa itu ada banyak macamnya, ada Visa on Arrival (VoA) dimana visa bisa didapatkan setelah sampai di negara tujuan, contohnya jika kita berpergian ke negara di Asia Tenggara. Nah, masih dalam edisi menulis mengenai kesempatan (baca : rezeki) aku ke Turki, kali ini aku bakalan kasih tau mengenai visa ke Turki. Coba googling deh, pasti kamu bisa temukan beberapa informasi yang intinya mengacu pada dua hal yaitu:

1) Visa ke Turki dapat berupa Visa on Arrival, dimana kita bisa mengurus visa setelah mendaratkan kaki di Turki.

2) E-Visa, yaitu visa elektronik yang disediakan oleh pemerintah Turki. E-Visa ini dibuat melalui website dan dibayar dengan kartu kredit. Visanya akan berbentuk digital dan bisa dicetak pada kertas kalau kita mau.

Kalau aku, mencoba pilihan yang ke-2 yaitu E-Visa. Aku pilih visa elektronik karena kabar ‘burungnya’ kalau visa on arrival kita butuh antri dan kadang antriannya panjang. Duh, kalau biaya sama ya menurutku lebih baik visa elektronik saja. Kalau kamu berniat ke Turki dan menggunakan E-Visa, begini caranya ya.

1. Buka situs https://www.evisa.gov.tr/en/

E-Visa Homepage

2. Kamu ikuti saja petunjuknya, kalau kamu memang sangat tidak bisa bahasa Inggris, minta tolong pada temanmu ya hehe. Kamu klik Apply Now.

3. Nanti kamu diminta isi data, ya standar saja, yaitu nama, tanggal lahir, waktu keberangkatan, waktu kepulangan, dan sebagainya. Silahkan isi sesuai diri kamu ya, kalau bingung bisa tanya aku atau customer service nya kedutaan Turki.

E-Visa page 1

Pertama kamu akan diminta mengisi tentang Country Application. Lalu tekan Save and Continue.

E-Visa page 2

Masukkan tanggal berapa kamu sampai di Turki. Lalu tekan Save and Continue.

E-Visa page 3

Ketiga, isi data diri kamu. Lalu tekan Save and Continue.

E-Visa page 4

Terakhir, akan muncul halaman seperti ini. Tekan Verify dan tunggu saja nanti akan ada pesan baru di email kamu.

4. Setelah kamu melakukan verifikasi dengan membuka situs yang tertera di email kamu. Kamu akan beralih pada halaman pembayaran. Nah nanti kamu akan diminta membayar sebesar $25,7 ya kalau dirubah ke mata uang kita itu sekitar Rp 310.000,00. Gunakan kartu kredit ya, kalau aku pakai kartu kredit milik Mama hehe. Aku cuma punya kartu debit, kata Mama punya kartu kredit itu kurang baik.

Kamu akan diminta mengisi berapa nomor kartu kredit kamu, kode keamanan (security code), serta tanggal expired kartu kreditnya.

5. Dan…….pufff…….dalam 5 menit visa elektronik kamu akan jadi, selain bisa dibuka langsung di jendela browser, dikirimkan juga alamat situs visa elektronik kamu yang nantinya bisa di download dalam format pdf.

Visa Ready 1

Nanti akan muncul pesan baru setelah kamu melakukan pembayaran dengan kartu kredit. Tekan download.

Visa Ready 2

Tekan ‘Download your e-Visa’ dan yaaaaa Alhamdulillah visa kamu berarti sudah jadi.

Catatan: Sebaiknya di print atau bawa hp/tablet/iPad kamu saat check-in atau imigrasi. Kalau aku sendiri sih tidak dicetak, jadi aku menunjukkan visa elektronik aku ke petugas melalui tab. Hehe agak repot sih ya pegang tablet gitu, tapi sayang kertasnya.

Sumber gambar : https://www.evisa.gov.tr/en/

Happy Traveling 🙂