Ghosab: pinjam-sebentar-tak-usah-izin

Kamu tau Ghosab?

Tadinya, aku juga tidak kenal. Tapi sekarang aku sudah kenal.

Pernahkah kamu ingat suatu momen dimana kamu sedang berada di mushalla/ masjid dan saat kamu ingin keluar sebentar, kamu menemukan sandal kamu tidak ada di tempat kamu meletakkan sebelumnya. Ternyata tidak lama seorang temanmu datang dan berkata “Duh maaf ya, tadi gue pinjem sebentar sendal lo. Gue butuh beli minum, tapi sepatu gue ribet.” Lalu kamu hanya mengiyakan.

Pernah mengalami kejadian serupa? Katanya sih itu Ghosab.

Tolong untuk tidak menarik kesimpulan bahwa Ghosab adalah perbuatan memakai sandal teman tanpa izin ya, haha, Ghosab bukan itu.

Definisi Ghosab

Dalam suatu literatur, Ghosab merupakan  “Mengambil hak orang lain dan menguasainya secara paksa.” (Fiqh Sunah, 3/248). Ada juga pengertian lain yaitu menguasai harta orang lain secara paksa dan tidak ada keinginan untuk mengembalikannya.

Hukum Ghosab

Berdasarkan An-Nisa ayat 29 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil…” serta Al-Baqarah ayat 188 yang artinya “Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan jalan yang batil…” Maka jelas bahwa Ghosab hukumnya haram alias sangat tidak diperbolehkan.

Pemahaman Mengenai Ghosab

– Pemahaman versi 1

Sesuai cerita tentang ‘meminjam’ sandal yang aku sebutkan diawal, berkembang pemahaman bahwa meminjam barang orang lain tanpa izin disebut Ghosab. Salah satu sumber yang aku baca menyebutkan bahwa pemahaman tersebut tidak sepenuhnya benar. Dalam Ghosab, orang yang mengambil barang punya tujuan untuk menguasai barang itu secara utuh tanpa ada keinginan untuk mengembalikannya. Sedangkan dalam cerita ‘pinjam’ sandal, si peminjam hanya ingin meminjam sementara. Untuk kasus semacam itu, hukumnya kembali kepada standar yang berlaku di masyarakat.

Suatu sumber menyebutkan “Sesuatu yang menjadi Urf di masyarakat, dapat dijadikan salah satu sumber hukum/ acuan selama tidak bertentangan dengan hukum Islam.”

Duh, maaf ya jadi ada istilah baru deh yaitu Urf. Mau tidak aku kasih tau tentang si Urf ini? Demi kebaikan, aku kasih tau secara singkat aja ya 🙂

Urf > Kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat tertentu. Kalau kamu mau tau mengenal Urf lebih jauh, kusarankan kamu baca ini ya.

Kalau kamu menganggap cerita ‘meminjam’ sandal di atas sudah jadi kebiasaan mayoritas masyarakat kita, masyarakat Indonesia, tidak heran jika kamu menganggap kalau perbuatan sejenis kasus ‘meminjam’ sandal bukanlah Ghosab. Maka, pertanyaan besar yang harus kita jawab adalah apakah benar mayoritas masyarakat kita melihat perilaku meminjam tanpa izin walaupun akhirnya dikembalikan adalah hal yang lumrah? Lalu perhatikan juga standar Urf sampai bisa berlaku. Aku tidak sanggup membaca dan mencari literatur lain, sehingga aku sendiri belum bisa membuktikan kasus ‘meminjam’ sandal itu Ghosab atau bukan.

– Pemahaman versi 2

Aku yakin kadang aku, kamu, bahkan teman-teman kita yang lain suka meminjam pulpen teman yang duduk di kursi sebelah untuk sekedar mengisi buku absen. Padahal belum izin, kan kita hanya perlu membubuhkan ceklis jadi waktu memakai pulpennya tidak sampai 1 menit. Teman di kursi sebelah yang pulpennya kita ambil juga pasti mengerti, iya tidak? Hal kecil tidak usah dibesar-besarkanlah, setuju? Atau sedelapan? hehehe.

Jadi tolong ya buang pikiran kuno kalau meminjam tanpa izin adalah Ghosab, secara kita si peminjam kan ada niat mengembalikan barang yang dipakai. Coba, aku kasih tambahan ‘bumbu’ cerita ya. Bagaimana jika pulpen teman kita yang kita pinjam itu mereknya Mont Blanc edisi terbatas, koleksi pribadi teman kita, teman kita menggunakan pulpen itu karena saat itu ya hanya pulpen Mont Blanc itu yang dia bawa. Bisa jadi, sebenarnya dia tidak rela pulpen Mont Blanc nya itu dipakai kita loh, waduh bahaya tidak tuh? Apa iya kita kadang memperhatikan dulu pulpen teman yang kita pinjam mereknya apa? Duh, jadi kompleks ya ceritanya, bentar lagi aku menulis skrip drama deh hehe.

Sesuai pemahaman versi 1, Ghosab ya tidak apa-apa selama hal tersebut menjadi kebiasaan pada mayoritas masyarakat. Namun ingat, aku meninggalkan pertanyaan mengenai apakah benar perilaku pinjam-sebentar-tak-usah-izin adalah yang menjadi kebiasaan mayoritas masyarakat. Tentu jika benar bahwa pemilik barang yang kita pinjam-sebentar-tak-usah-izin sepenuhnya RELA barangnya dipinjam, maka jelas kita sebagai peminjam TIDAK DOSA. Tapi bagaimana kita tahu bahwa si pemilik barang benar-benar rela? Okelah kalau si pemilik barang berkata “Iya nggak apa-apa” setelah kita minta izin pinjam setelah memakai barangnya, tetapi siapa yang tahu kalau dia benar-benar rela dan hatinya tulus. Bukannya bermaksud berburuk sangka, peribahasa saja mengatakan bahwa dalam laut bisa diduga, dalam hati siapa tahu. Tuh, bagaimana dong ya?

Jadi pemahaman versi 2 ini lebih mengarahkan untuk sebaiknya meminta izin terlebih dahulu hingga pemilik barang mengizinkan sebelum memakai barang yang kita minta izinnya. Siapa tahu kan niat kamu pinjam sandal teman karena kamu pakai sepatu bertali yang bikin ribet, sandal teman kamu mereknya Fitflop yang harganya Rp 500.000, kamu tidak minta izin dan mengamalkan pinjam-sebentar-tak-usah-izin, ternyata saat dipakai tidak sengaja kamu merusak sandalnya. Duh, apa kabar tuh sandal? Ganti uang Rp 500.000 gitu? Teman kamu yang punya sandal mahal bakalan marah dan kesal tidak ya?

Aku bukan menyarankan kamu untuk hapal merek barang mahal agar lebih hati-hati meminjam loh ya. Hahaha. Mulai sekarang, aku dan kamu yang baca tulisanku perlu membiasakan izin dulu sebelum meminjam ya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan hehe.

Wallahu a’lam bishshawab

Jadi, mana pemahaman yang akan kamu yakini? Versi 1 atau Versi 2? Haha

🙂

Sumber tulisan

– http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1391071809&=tentang-urf-dan-tradisi.htm

– http://mahad.uin-suska.ac.id/berita.php?id=232

– http://www.smp-alazhar14.com/v2/html/index.php?id=artikel&kode=3

Sumber gambar: ini dan itu.

Advertisements

PHP!

Suatu siang yang aku lupa saat itu hari apa, seperti biasa aku menuju stasiun kereta. Sudah menjadi rutinitasku untuk menggunakan kereta commuter line ke kampus. Layaknya hari-hari biasanya, aku masuk di lokomotif khusus wanita. Setelah berdiri dekat pintu kereta otomatis yang tidak terbuka, aku pun mulai ‘bermain’ handphone. Tepat di stasiun berikutnya, seorang Ibu dan anak laki-lakinya masuk, mereka berdiri persis di depanku. Aku yang memang kepo dan suka anak kecil jelas memperhatikan anak laki-laki yang kuperkirakan umurnya tidak sampai 7 tahun, entahlah, aku sangat tidak pandai memperkirakan umum seseorang.

Anak laki-laki itu cukup lucu menurutku, lucu yang tidak membuatku ingin tertawa loh ya. Kulitnya sawo matang, kepalanya bersih dari rambut, matanya itu mencerminkan keingintahuan yang besar menurutku. Haha, sok tau ya aku? Tapi memang si anak itu celingak-celinguk. Ternyata benar tebakanku, anak itu ingin bertanya-tanya beberapa hal pada ibunya. Aku dengarkan saja pembicaraan mereka, sejujurnya aku ‘gatal’ sekali ingin berkenalan dengan anak itu. Ada satu pembicaraan antara ibu dan anak itu yang paling kuingat.

“Mama, kenapa orang-orang turunnya disebelah situ?” Si anak menoleh pada pintu otomatis yang terbuka saat kereta berhenti di stasiun.

“Ya, emang begitu.” Ibunya menjawab.

Kereta berjalan lagi dan pertanyaan si anak masih sama. “Itu Ma, kenapa orang-orangnya turun di sebelah situ?”

Si Ibu pun masih dengan jawaban yang sama. “Ya, emang disitu turunnya.”

“Kok disitu sih Ma turunnya?” Bahkan si anak masih bertanya lagi di stasiun berikutnya.

“Iya emang gitu.” Si Ibu masih dengan jawaban pamungkasnya.

Saat itu, aku gemas sekali. Duh, senang sekali melihat keingintahuan dari seorang anak kecil. Masih kecil saja sudah mau berpikir, apalagi kalau nanti dewasa coba, iya tidak? Hehe. Aku gemas ingin menjawab pertanyaan si anak kecil. Tapi, mau jawab apa ya. Bagaimana coba menjelaskan suatu hal ke anak kecil. Kalau aku bilang karena di pintu otomatis yang terbuka adalah letak stasiun, aku yakin anak itu pasti akan bingung atau malah bertanya stasiun itu apa. Hem, menjadi Ibu tidak mudah ya. Eh ralat, menjadi Ibu dengan calon anak yang cerdas tidak mudah ya. Hihi. Setelah berpikir beberapa saat dan mencoba percaya diri akan jawaban yang akan aku berikan, aku pun mengajak bicara si anak kecil.

“Halo adek, lucu sekali kamu. Namanya siapa?” Aku tersenyum lebar.

“………” Tidak ada tanggapan dari si anak kecil, ia malah melihat ke arah lain. Sepertinya malu.

“………” Ibu nya si anak pun tidak berusaha berbicara denganku, padahal aku berharap si Ibu lebih komunikatif dan menyapaku juga.

“Wah malu ya, kenalan yuk. Kenalin namaku Kak Ita.” Oke, sekarang aku sudah tambah dosis percaya diri dan muka tembok.

“………” Si anak lucu masih diam saja, melihatku sebentar lalu celingak-celinguk.

“………” Si Ibu pun hanya senyum-senyum saja melihat aku yang berusaha kenalan. Duh, mati gaya banget deh aku.

Daripada mati gaya total dan tidak ada pembicaraan sama sekali. Kualihkan saja pembicaraanku pada si Ibu. “Wah Ibu, anaknya lucu banget loh. Pintar kayaknya, dari tadi nanya-nanya mulu ya.” Masih kupasang senyum lima jariku. Haha.

“Iya nih neng, nanya-nanya mulu mah dia. Apa-apa ditanya.” Alhamdulillah yah, akhirnya pembicaraan yang kumulai tidak satu arah saja.

“Haha gapapalah ya Bu. Ini anaknya namanya siapa Bu?”

“Namanya …………” Hehe, duh aku lupa namanya.

“Halo (kusebut nama si anak), kenalan yuk sama aku.” Aku kembali menatap si anak sambil setengah bungkuk sambil tersenyum.

“……….” Yak, lagi-lagi aku dicuekin. Hiks nasib. Bagaimana coba aku mau membantu menjelaskan pertanyaan si anak tentang tempat orang-orang turun dari kereta.

“Ibu malu-malu ya anaknya.” Kualihkan lagi untuk berbicara pada Ibunya si anak saja.

“Hehe iya nih neng.”

Akhirnya dengan keberanian yang aku tingkatkan, demi memuaskan keingintahuan si anak, aku bungkukkan lagi badanku. Tentunya agar aku dan si anak punya jarak pandang yang sama. Saat kereta berjalan kukatakan begini “Nih, aku jelasin ya kenapa orang-orang turunnya di pintu yang itu.” Aku berusaha menatap si anak yang masih melihat ke arah pintu otomatis tempat orang-orang turun.

Tepat saat kereta akan berhenti, aku berkata “Nah, liat deh orang-orangnya turun, terus liat itu ada tempat turunnya. Coba kamu liat pintu yang ini (aku menunjuk pintu dekat tempat aku berdiri), di luarnya rel kan? Nggak ada tempat turunnya kan? Nah, masa orang-orang mau turun di rel? Jatuh dong mereka? Yaudah deh, mereka turunnya di sebelah situ karena ada tempat turunnya.” Hahaha, rasanya aku mau tertawa dengan kata “tempat turun.”

Saat aku mengatakan hal tadi, mata si anak mengikuti arah telunjukku saat aku menjelaskan. Penjelasanku cukup panjang, aku sendiri ragu apakah si anak lucu ini mengerti. Tapi yang membuat aku rasanya ingin menangis adalah saat aku mengucapkan “Nah, masa orang-orang mau turun di rel? Jatuh dong mereka?” tepat saat itu si anak itu mengangguk, aku ulang ya, MENGANGGUK. Itu reaksi pertama, respons dari si anak akan apa yang aku jelaskan. Wah, senang sekali aku, senangnya sampai terharu. Alhamdulillah, si anak kecil itu mengerti. Senang sekali rasanya membantu anak kecil itu menyelesaikan pertanyaannya. Selanjutnya, si anak itu sudah tidak celingukan memperhatikan pintu otomatis tempat penumpang turun. Ia malah sudah bertanya hal lain pada Ibunya. Sayangnya perjalanan sudah sampai stasiun Universitas Indonesia, aku harus turun tentunya.

Maka, aku yakin kalau menjadi perempuan itu harus pintar. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk membangun keluarga nanti. Untuk mendidik anak nanti, untuk membantu anak menuntaskan keingintahuan mereka.

Ya, Perempuan Harus Pintar (PHP).

Salam PHP!

Sumber Gambar: dari sini