PHP!

Suatu siang yang aku lupa saat itu hari apa, seperti biasa aku menuju stasiun kereta. Sudah menjadi rutinitasku untuk menggunakan kereta commuter line ke kampus. Layaknya hari-hari biasanya, aku masuk di lokomotif khusus wanita. Setelah berdiri dekat pintu kereta otomatis yang tidak terbuka, aku pun mulai ‘bermain’ handphone. Tepat di stasiun berikutnya, seorang Ibu dan anak laki-lakinya masuk, mereka berdiri persis di depanku. Aku yang memang kepo dan suka anak kecil jelas memperhatikan anak laki-laki yang kuperkirakan umurnya tidak sampai 7 tahun, entahlah, aku sangat tidak pandai memperkirakan umum seseorang.

Anak laki-laki itu cukup lucu menurutku, lucu yang tidak membuatku ingin tertawa loh ya. Kulitnya sawo matang, kepalanya bersih dari rambut, matanya itu mencerminkan keingintahuan yang besar menurutku. Haha, sok tau ya aku? Tapi memang si anak itu celingak-celinguk. Ternyata benar tebakanku, anak itu ingin bertanya-tanya beberapa hal pada ibunya. Aku dengarkan saja pembicaraan mereka, sejujurnya aku ‘gatal’ sekali ingin berkenalan dengan anak itu. Ada satu pembicaraan antara ibu dan anak itu yang paling kuingat.

“Mama, kenapa orang-orang turunnya disebelah situ?” Si anak menoleh pada pintu otomatis yang terbuka saat kereta berhenti di stasiun.

“Ya, emang begitu.” Ibunya menjawab.

Kereta berjalan lagi dan pertanyaan si anak masih sama. “Itu Ma, kenapa orang-orangnya turun di sebelah situ?”

Si Ibu pun masih dengan jawaban yang sama. “Ya, emang disitu turunnya.”

“Kok disitu sih Ma turunnya?” Bahkan si anak masih bertanya lagi di stasiun berikutnya.

“Iya emang gitu.” Si Ibu masih dengan jawaban pamungkasnya.

Saat itu, aku gemas sekali. Duh, senang sekali melihat keingintahuan dari seorang anak kecil. Masih kecil saja sudah mau berpikir, apalagi kalau nanti dewasa coba, iya tidak? Hehe. Aku gemas ingin menjawab pertanyaan si anak kecil. Tapi, mau jawab apa ya. Bagaimana coba menjelaskan suatu hal ke anak kecil. Kalau aku bilang karena di pintu otomatis yang terbuka adalah letak stasiun, aku yakin anak itu pasti akan bingung atau malah bertanya stasiun itu apa. Hem, menjadi Ibu tidak mudah ya. Eh ralat, menjadi Ibu dengan calon anak yang cerdas tidak mudah ya. Hihi. Setelah berpikir beberapa saat dan mencoba percaya diri akan jawaban yang akan aku berikan, aku pun mengajak bicara si anak kecil.

“Halo adek, lucu sekali kamu. Namanya siapa?” Aku tersenyum lebar.

“………” Tidak ada tanggapan dari si anak kecil, ia malah melihat ke arah lain. Sepertinya malu.

“………” Ibu nya si anak pun tidak berusaha berbicara denganku, padahal aku berharap si Ibu lebih komunikatif dan menyapaku juga.

“Wah malu ya, kenalan yuk. Kenalin namaku Kak Ita.” Oke, sekarang aku sudah tambah dosis percaya diri dan muka tembok.

“………” Si anak lucu masih diam saja, melihatku sebentar lalu celingak-celinguk.

“………” Si Ibu pun hanya senyum-senyum saja melihat aku yang berusaha kenalan. Duh, mati gaya banget deh aku.

Daripada mati gaya total dan tidak ada pembicaraan sama sekali. Kualihkan saja pembicaraanku pada si Ibu. “Wah Ibu, anaknya lucu banget loh. Pintar kayaknya, dari tadi nanya-nanya mulu ya.” Masih kupasang senyum lima jariku. Haha.

“Iya nih neng, nanya-nanya mulu mah dia. Apa-apa ditanya.” Alhamdulillah yah, akhirnya pembicaraan yang kumulai tidak satu arah saja.

“Haha gapapalah ya Bu. Ini anaknya namanya siapa Bu?”

“Namanya …………” Hehe, duh aku lupa namanya.

“Halo (kusebut nama si anak), kenalan yuk sama aku.” Aku kembali menatap si anak sambil setengah bungkuk sambil tersenyum.

“……….” Yak, lagi-lagi aku dicuekin. Hiks nasib. Bagaimana coba aku mau membantu menjelaskan pertanyaan si anak tentang tempat orang-orang turun dari kereta.

“Ibu malu-malu ya anaknya.” Kualihkan lagi untuk berbicara pada Ibunya si anak saja.

“Hehe iya nih neng.”

Akhirnya dengan keberanian yang aku tingkatkan, demi memuaskan keingintahuan si anak, aku bungkukkan lagi badanku. Tentunya agar aku dan si anak punya jarak pandang yang sama. Saat kereta berjalan kukatakan begini “Nih, aku jelasin ya kenapa orang-orang turunnya di pintu yang itu.” Aku berusaha menatap si anak yang masih melihat ke arah pintu otomatis tempat orang-orang turun.

Tepat saat kereta akan berhenti, aku berkata “Nah, liat deh orang-orangnya turun, terus liat itu ada tempat turunnya. Coba kamu liat pintu yang ini (aku menunjuk pintu dekat tempat aku berdiri), di luarnya rel kan? Nggak ada tempat turunnya kan? Nah, masa orang-orang mau turun di rel? Jatuh dong mereka? Yaudah deh, mereka turunnya di sebelah situ karena ada tempat turunnya.” Hahaha, rasanya aku mau tertawa dengan kata “tempat turun.”

Saat aku mengatakan hal tadi, mata si anak mengikuti arah telunjukku saat aku menjelaskan. Penjelasanku cukup panjang, aku sendiri ragu apakah si anak lucu ini mengerti. Tapi yang membuat aku rasanya ingin menangis adalah saat aku mengucapkan “Nah, masa orang-orang mau turun di rel? Jatuh dong mereka?” tepat saat itu si anak itu mengangguk, aku ulang ya, MENGANGGUK. Itu reaksi pertama, respons dari si anak akan apa yang aku jelaskan. Wah, senang sekali aku, senangnya sampai terharu. Alhamdulillah, si anak kecil itu mengerti. Senang sekali rasanya membantu anak kecil itu menyelesaikan pertanyaannya. Selanjutnya, si anak itu sudah tidak celingukan memperhatikan pintu otomatis tempat penumpang turun. Ia malah sudah bertanya hal lain pada Ibunya. Sayangnya perjalanan sudah sampai stasiun Universitas Indonesia, aku harus turun tentunya.

Maka, aku yakin kalau menjadi perempuan itu harus pintar. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk membangun keluarga nanti. Untuk mendidik anak nanti, untuk membantu anak menuntaskan keingintahuan mereka.

Ya, Perempuan Harus Pintar (PHP).

Salam PHP!

Sumber Gambar: dari sini

Advertisements

2 thoughts on “PHP!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s