Ma…Ma…Ma…Mazhab! – Ini nih yang perlu diketahui tentang mazhab :)

Tadi siang sekitar waktu setelah adzan dzuhur, aku mengalami kegalauan antara mau antara mau membaca Al-Quran dulu atau mendengar ceramah dulu. Soalnya yang membawakan ceramah adalah Bapak Muhammad Ajib, sebenarnya tidak kenal juga sih dengan Bapaknya haha. Tapi……dia itu dari Rumah Fiqih Indonesia yang situsnya sering aku buka dan aku baca-baca gitu deh. Apa daya hidup penuh pilihan, walaupun aku belum membaca Al-Quran sejak pagi akhirnya aku memilih untuk mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Kira-kira di bawah ini adalah apa yang beliau sampaikan.

Mengapa Kita Perlu Ber-Mazhab?

Hem, pertanyaan awal adalah apa itu Mahzab? Maniskah? Atau pahit? Sejenis apa ya itu hehe. Duh aku juga tidak begitu mengerti sih. Yaudah aku googling ya. Berbekal rasa ingin tahu dan kemampuan merangkum, jadi ini dia mengenai mazhab.

Pengertian Mazhab dari situs Rumah Fiqih Indonesia.

Secara bahasa: tempat untuk pergi.

Secara istilah: metodologi ilmiah dalam mengambil kesimpulan hukum dari kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Nabawiyah.

Oke oke, jadi sudah jelas ya kalau kita mendengar Mazhab Syafi’i berarti kita akan mengetahui beberapa hal mengenai Islam berdasarkan proses ilmiah pencapaian kesimpulan yang dilakukan Imam Syafi’i. Gitu ya, mengerti tidak? Huhu maafkan ya kalau definisi pribadiku membuatmu mengalami distorsi pemikiran.

Pasti pernah dong mendengar ulama 4 mazhab? Pernah dong ya? Siapa saja coba Ulamanya? Hehe maafkan ya aku iseng. Tapi tetap ya aku tidak mau kasih tau siapa saja ulamanya 😛 Nah, mazhab yang akan aku bicarakan disini maksudnya mazhab fiqih. Waw waw waw, biar lebih crystal clear aku jelaskan ya fiqih itu apa. Tidak lucu dong ya kalau membicarakan sesuatu dan memberikan perspektif kita akan hal tersebut tapi kita sendiri justru tidak mengerti sesuatu itu apa. Iya tidak? Oke, aku akan kembali googling.

Pengertian Fiqih dari beberapa sumber.

Secara bahasa: paham.

Secara istilah: pengetahuan tentang hukum syari’at (hukum yang bersumber dari Allah Swt melalui kitab-Nya dan lisan Nabi-Nya saw) dan hal-hal yang terkandung dalam hukum tersebut.

Adapun definisi yang dikenal para ulama yaitu:

“Ilmu yang membahas hukum-hukum syariat bidang amaliyah (perbuatan nyata) yang diambil (istimbath) dari dalil-dalil secara rinci.”

Fix, clean and clear ya kalau fiqih itu adalah ilmu mengenai hukum-hukum syari’at dalam hal jasadiyah dan badaniyah alias perbuatan yang kita lakukan. Jadi fiqih tidak mengurus hal-hal terkait ruh, perasaan, atau aspek kejiwaan lainnya.

Perlu diingat ya kalau ilmu fiqih ini diterjemahkan dengan metode yang disepakati para ulama dan terangkum dalam sebuah ilmu yang dinamakan ‘ushul-Fiqh’. Ini ya kalau copy-paste dari situs Rumah Fiqih Indonesia,

Kalau hanya dengan satu dua ayat dan hadits, kemudian menentukan hukum, itu bukan ahli fiqih namanya, karena memang fiqih tidak sesimpel itu. Kalau hanya begitu, anak-anak yang baru bisa terjemah Arab pun bisa.”

Mungkin kalau bisa aku simpulkan saat ada orang yang mengatakan “Kalau aku ikut mazhab Maliki” itu berarti orang tersebut melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai koridor Islam menurut hasil penerjemahan atau tafsiran Imam Malik. Wahh, Alhamdulillah ya sekarang kita sudah tahu nih apa yang mau aku bicarakan ehhh tuliskan selanjutnya maksudku hihi.

Jawaban: Karena kita masih awam.

Hem coba ya aku cek, kamu bisa mengerti Al-Quran tanpa baca terjemahannya? Kalau aku sih tidak.

Kamu fasih berbahasa arab baik lisan atau tulisan? Kalau aku sih belum.

Faktanya hukum-hukum syari’at yang bersumber dari Allah Swt yang seharusnya kita laksanakan, dituangkan Rabb kita dalam suatu kitab bernama Al-Quran. Kitab tersebut tertulis dalam bahasa Arab. Oke, ada terjemahannya kok, selesai kan? Sayangnya, setiap hal saja bisa diartikan berbeda oleh beberapa orang. Apalagi Al-Quran yang isinya kata-kata? Kita saja bisa menafsirkan yang berbeda padahal membaca suatu artikel yang sama, iya tidak? Terus ya, Nabi kita tersayang Nabi Muhammad saw telah tiada dan tidak ada yang bisa menjelaskan secara lisan mengenai apa sih yang tertuang dalam Al-Quran.

Maka, kita perlu mengikuti mazhab tertentu, apapun mazhabnya boleh saja. Imam-Imam terdahulu yang dirahmati Allah telah berusaha sedemikian rupa tidak hanya memahami bahasa Arab, namun mengetahui ribuan hadits, tentu ulama-ulama tersebut tidak sembarangan dalam menafsirkan hukum-hukum syari’at. Ulama-Ulama para mazhab itu ya kalau memutuskan suatu hukum harus paham dulu, harus faqih istilahnya. Ingat, para Ulama itu tidak meneliti sesuatu dari satu dua ayat atau hadits, tapi ratusan bahkan ribuan.

Kalau berdasarkan artikel di situs Rumah Fiqih Indonesia sih begini,

Jadi, bukan ‘kembali ke Al-Quran dan Sunnah” slogan yang harus dikampanyekan, tapi ‘kembali ke Ulama’ yang harus digalakkan. Karena kita tidak akan mungkin memahami Al-Quran dan Sunnah hanya mengandalkan otak kita dan diri ini yang penuh hawa nafsu serta kepentingan tanpa melihat bagaimana cara ulama memahaminya.”

Setuju sekali deh aku dengan pernyataan di atas. Hem bagaimana ya, bisa jadi sih pandangan awal kita akan hukum atau sesuatu terkait syari’at yang kita terjemahkan sendiri itu benar, tapi sampai kapan sih kita benar terus? Siapa kita coba? Hohoho.

Bagaimana Jika Meyakini Lebih dari Satu Mazhab?

 Nah, tepat saat kata Ustadznya ceramahnya selesai, dibukalah sesi tanya jawab. Tadinya mau mulai membaca Al-Quran, eh tapi pertanyaan dari si Mas-Mas kok ya bagus. Ada Mas-Mas entah siapa yang tidak perlu kita sebut dia mawar, bertanya bagaimana jika kita memakai mazhab yang berbeda-beda dalam setiap hal yang kita lakukan. Nah loh, bagaimana ya? Boleh tidak ya? Bolehlah ya, Allah kan Maha Baik. Hahaha jawaban tidak bermutu itu, tidak boleh dicontoh ya.

Jawaban: Boleh saja, disebut Talfiq itu.

Hem, kira-kira itulah yang dikatakan Ustadz penceramah bahwa mengikuti lebih dari satu mazhab diperbolehkan. Kalau kita menganut lebih dari satu mazhab disebut talfiq. Nah tapi, ada satu hal yang perlu diingat, kita boleh mengikuti lebih dari satu mazhab tapi tidak asal mencampuradukkan semuanya. Pakai satu mazhab untuk satu paket perbuatan. Mengerti tidak? Yaudah aku buat do’s and dont’s ya.

Do’s : Saat wudhu dalam menilai hukum batal wudhu atau apa saja yang wajib dibasuh mengikuti hukum mazhab Maliki.

Dont’s : Saat wudhu dalam menilai apa saja yang perlu dibasuh mengikuti mazhab Maliki dan mengenai hukum batal wudhu mengikuti mazhab Syafi’i.

Coba aku tes ya!

Sebutlah seseorang bernama Barbie, antara satu dan lain hal ia memutuskan mengikuti mazhab Syafi’i yang salah satunya adalah melakukan wudhu dengan berurutan. Nah karena Barbie itu pakai kerudung, dia malas tuh kalau harus buka kerudung saat wudhu. Barbie mengusap kepala dengan air hanya dengan dengan mengusapkan air pada beberapa helai rambut yang ada di atas kepala, hal itu sesuai mazhab Syafi’i. Waduh, saat selesai wudhu Barbie tidak sengaja melewati area sempit ke arah tempat shalat dan bersentuhan tangan dengan Ken, rekan kerjanya. Lantas Barbie menganggap itu tidak apa-apa, kan menurut mazhab Hanafi selama yang bersentuhan bukan kemaluan ya wudhunya tidak batal. Apakah yang dilakukan Barbie sudah benar?

TIDAK. Ya, jawabannya tidak. Kita memang boleh memakai lebih dari satu mazhab tapi tidak mencampuradukkannya ya dalam satu perbuatan.

Kira-kira itu saja yang bisa aku sampaikan Duhhh sebenarnya aku gemesh mau membahas hal-hal lain seperti,

  • Mengapa mengetahui fiqih itu penting? (hayo kenapa hayo?)
  • Mengapa setiap Mazhab bisa berbeda padahal sumbernya sama-sama Al-Quran dan Sunnah?

Penasaran kan? Tapi aku sudah lelah mengetik ini hehe. Ini saja aku mulai mengetik dari sekitar pukul 13.30 dan sekarang sudah pukul 15.45. Yah maklum aja kan disertai googling hehe.

Kalau Aku Sendiri……………

Jujur saja sampai saat tulisan ini di buat aku belum tau memutuskan ingin mengikuti mazhab yang mana. Mungkin aku akan fleksibel, tapi entahlah haha. Iya aku tidak tahu mau bagaimana. Sepertinya aku akan mulai membaca beberapa artikel tentang salah satu mazhab deh walaupun belum tentu mengikutinya. Hem malu sih ya, sudah menulis hal tentang mazhab seperti tulisan ini tapi perkembangan diri sendiri kok ya rasanya lambat gitu ya huhuhuhuft. Tapi gapapa, semua dimulai dari baby steps kok. Kita sekarang bisa berjalan saja dulu dimulai dari langkah-langkah kecil kita saat bayi. In sha Allah aku akan menjadi muslim yang lebih baik dan kamu juga, aamiin.

Sampai jumpa di postingan aku selanjutnya.

Semoga bermanfaat.

Mohon maaf jika ada informasi yang salah. Moho koreksinya ya J

Sumber

Anonim. 2008. Fiqih Islam. (http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-islam.html diakses pada 30 Juli 2015)

Bagir, Muhammad. 2008. Fiqih Praktis I. (https://books.google.co.id/books?id=3hsXDH230h8C&pg=PA72&lpg=PA72&dq=rukun+wudhu+menurut+mazhab+syafi%27i&source=bl&ots=RZafYAZnXz&sig=8MzRgRydiHTFbRQswGD3AqqEWWI&hl=en&sa=X&ved=0CEYQ6AEwCTgKahUKEwjY7JXTuILHAhWScI4KHTekCX0#v=onepage&q=rukun%20wudhu%20menurut%20mazhab%20syafi’i&f=false diakses pada 30 Juli 2015)

Hapsari, Endah. 2013. Bersentuhan dengan Lawan Jenis Batalkan Wudhu?. (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/01/22/mh0rnw-bersentuhan-dengan-lawan-jenis-batalkan-wudhu)

Sarwat, Ahmad. 2014. Mazhab dalam Islam. (http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1135215326&=mazhab-dalam-islam.htm diakses pada 30 Juli 2015)

Simanjuntak, Zuria Ulfi. 2014. Hal-Hal yang Membatalkan Wudhu. (http://www.rumahfiqih.com/khazanah/x.php?id=4 diakses pada 30 Juli 2015)

Zarkasih, Ahmad. 2013. Ilmu Fiqih Bukan Ilmu Sembarang. (http://www.rumahfiqih.com/fikrah/x.php?id=137&=ilmu-fiqih-bukan-ilmu-sembarang diakses pada 30 Juli 2015)

Sumber Gambar 1, Gambar 2, Gambar 3

Advertisements

2 thoughts on “Ma…Ma…Ma…Mazhab! – Ini nih yang perlu diketahui tentang mazhab :)

  1. Bukan taufiq, tapi talfiq. Setahuku, talfiq itu juga tidak boleh dilakukan oleh orang awam. Karena mencegah mencapuradukan itu juga membutuhkan ilmu yang tidak dangkal. Sehingga talfiq itu bisa dilakukan oleh orang-orang yang setidaknya sudah memiliki kemampuan untuk melakukan ijtihad.

    Saya sepaham bahwa slogan “kembali ke Alquran dan sunah” itu terlalu absurd, karena kelompok muslim yang suka saling ribut itu sama-sama meneriakkan slogan tersebut 🙂

  2. Hello,
    Thank you for your very constructive comment.

    Wah, pengetahuan aku tidak seberapa nih emang. Coba deh baca ini http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1337922625&=talfiq-antar-mazhab-apa-maksud-dan-pengertiannya.htm

    Justru disitu dibilang kalau orang melakukan talfiq karena orang tersebut belum mempunyai kemampuan untuk melakukan ijtihad. Tapi disitu dibilang justru boleh mencampuradukkan dua mazhab dalam satu perbuatan. Entahlah. Padahal ustadznya bilang tidak boleh. Uft pusing, tabayyun nya masih kurang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s