Tips Tanpa Trik: Bagaimana Membuat Esai untuk Exchange Program

Biasanya saat mendaftar exchange program atau beasiswa tertentu, pasti diminta untuk menulis esai. Baik esai personal maupun esai dengan tema yang sudah ditentukan. Saat pertama kali membuat esai untuk exchange program, saya bingung. Mau menulis apa, apa dahulu yang dibahas, esai yang bagus seperti apa. Kalau esainya dalam bahasa Inggris, lebih baik menulis dalam bahasa Indonesia dahulu atau tidak ya? Kebingungan saya dalam membuat esai menjadi inspirasi akan hadirnya tulisan kali ini.

Ya, aku mah apa atuh, bukan pembuat esai paling bagus se-Indonesia. Tapi setidaknya saya punya pengalaman membuat esai yang ingin saya bagi kepada kamu-kamu yang penasaran bagaimana proses seseorang membuat esai, dalam hal ini seseorangnya itu saya. Saya ceritakan ya bagaimana proses saya membuat esai untuk mendaftar Indonesia-China Youth Exchange Program (IChiYEP) 2015. Saat pendaftaran IChiYEP 2015 dibuka, terdaftar 1566 orang dari 32 provinsi di Indonesia. Lalu terpilih 100 terbaik berdasarkan esai yang dibuat, saya termasuk dalam 100 besar saat itu.

Tips Membuat Esai ala Ita

Jujur saja menuliskan bagaimana proses saya membuat esai secara rinci cukup menantang, tapi saya akan mencoba uyeaaah. Proses membuat esai simpel kok, hanya butuh 4 langkah mudah untuk membasmi kuman #salahfokus.

  1. BACA Petunjuk/ Pertanyaan yang Diberikan dan TULIS Outline

Saat melakukan listening test untuk ujian bahasa Inggris di sekolah, guru saya pernah berkata bahwa salah satu strategi menjawab adalah dengan membaca soalnya terlebih dahulu. Sehingga saat kita mendengar percakapan dari speaker, kita sudah tahu apa yang yang harus menjadi fokus kita dalam mencari jawaban untuk listening test tadi. Nah, sama halnya dengan menulis esai. Saya perlu ‘mendengar’ dulu apa yang diinginkan tim seleksi dengan membaca petunjuk penulisan esai.

Setelah membaca, biasanya saya mulai terpikirkan akan suatu hal yang ingin saya tulis. Kadang hal yang ingin saya tulis tadi saya tuliskan di notes atau saya pikiran saja. Berikut adalah outline esai saya.

Please tell us why you are interested with People’s Republic of China

other: I am interested in taking my master degree in China

(Awalnya ditanyakan apa yang membuat saya tertarik dengan negara Tiongkok. Dari pilihan yang ada, kurang cocok dengan saya, jadi saya pilih other dan saya ketik sendiri jawabannya)

Why are you interested in the aspect you have chosen above?

  • Mengenai kenapa saya tertarik master degree di Tiongkok atau ketertarikan saya akan belajar bahasa Mandarin

(Ya saya memang sudah membuat rencana untuk S2 dan saya terbuka untuk kuliah di beberapa negara, termasuk Tiongkok. Saya juga sangat tertarik dalam belajar bahasa. Intinya saya TIDAK MAU BOHONG. Jujur adalah segalanya uwo uwo syalalalala.)

What can you contribute, either culturally (e.g. dance, sing) or skill-wise (e.g. photography, public speaking), to the program?

  • Sebutkan hal yang pernah dilakukan yang bisa menjadi poin lebih.

The most interesting experiences / achievement in your life that is relevant to the program

  • Cerita mengenai saat NIDA Summer Camp

(Dari beberapa pengalaman yang saya punya, saat mengikuti NIDA Summer Camp salah satu yang paling berkesan terutama dalam hal pertemanan dan kekompakan gitu deh hihi)

Should you be chosen, how would the experience help you and others in the future?

  • Ceritakan bagaimana ‘terjun’ ke budaya Tiongkok akan membantu saya memahami bahasa Mandarin lebih baik

Alhamdulillah, setidaknya dengan ada outline saya jadi tahu apa yang ingin saya tuliskan bukan? Lumayan lah daripada galau mikirin esai yang bagus itu seperti apa, lebih baik catat dulu saja apa yang ada di pikiran.

  1. TULIS Apa yang Sudah Direncanakan dan REVIEW Esai dengan Meminta Tolong pada Teman

Outline sudah siap, ya sudah saya eksekusi saja dulu dengan membuat tulisan. Selama semangat masih membara, lanjut menulis saja deh yha akika. Silahkan dilihat esai ‘mentah’ saya ini.

Mini Essay for IChiYEP

Jika diminta menuliskan esai dalam bahasa Inggris, saya lebih memilih menuliskan langsung dalam bahasa inggris. Ya kalau kamu tanya kenapa, karena good feeling saya dalam menulis esai bahasa Inggris akan muncul jika saya menuliskannya langsung dalam bahasa Inggris. Tentu saja menuliskannya langsung dalam bahasa Inggris lebih sulit dibanding menulis dalam bahasa Indonesia. Jadi kalau kamu berpikir lebih baik ditulis dalam bahasa Indonesia dulu, tidak masalah sama sekali kok.

Lalu setelah selesai saya tulis, saya minta tolong dua teman yang saya percaya untuk memberi komentar dan kritik terhadap esai saya. Kamu bisa lihat bagaimana komentar dan kritik dari dua teman saya yang baik hati, nih di-klik aja yhaaa.

Mini Essay for IChiYEP_readbyDetti

Mini Essay for IChiYEP_readbyKakSheila

Kamu tahu tidak?

Saya bersyukur dua teman saya berbaik hati telah berkenan untuk menilai tulisan saya. Tapi kalau dikritik atau ditunjukkan sesuatu yang jelek dari karya saya, kok rasanya agak HEMPH gitu ya? Ya gitu kayak sedih agak bete. Dikritik nggak asik. Tapi dari kritikan, saya harus melangkah ke depan. Berusaha maksimal, untuk hasil optimal. Ya sulit sih, tapi bukan berarti saya tidak bisa.

  1. BACA Artikel serta Esai Orang Lain dan TULIS Perbaikan dari Esai Pertama.

Setelah ucing pala fulla membaca komentar dan kritikan perihal esai yang pertama dibuat tadi, kayaknya fulla lebih memilih untuk cari inspirasi dengan membaca artikel aja deh yha. Saya kerahkan seluruh usaha memperoleh esai-esai sejenis yang ada di internet, lalu saya baca. Saat saya membaca esai-esai yang tersedia di internet, saya jadi bisa membedakan mana esai yang menyenangkan untuk dibaca dan mana yang tidak. Sampai tahap mana saya perlu ‘menjual diri’ saya agar tidak terlihat boasting. Untuk menemukan esai-esai di internet, cukup buka Google dan gali otak kamu untuk mengeluarkan keyword yang terpikirkan seperti personal essay, essay for exchange program, dsb.

Selain itu, saya juga membaca beberapa artikel mengenai apa yang menjadi keunggulan negara Tiongkok dan hal lainnya sebagai pendukung apa yang akan saya tulis di esai. Setelah bosan mencari inspirasi, saya maunya bobo aja, lelah pikiran akika. Tapi apa daya tuntutan keinginan, maka saya kerahkan semangat untuk melakukan revisi esai CIAT!

Alhamdulillah, revisi sudah jadi yuhuuuuu!

Mini Essay for IChiYEP (Update)

  1. REVIEW Esai dengan Meminta Tolong pada Teman dan TULIS Esai Revisi

Berhubung esai revisi pertama sudah selesai, maka saya minta tolong pada teman yang lain untuk memberikan komentar, kritik, dan saran.

Mini Essay for IChiYEP (Update)_readbyKakNanda

Akhirnya muncul lagi kritik mengenai tulisan saya, ya masih sama saat dibaca rasanya HEMPH. Duh ya ampun, kapan tulisan akika jadi keren beken yha. Tapi saya tahu, untuk menulis lebih baik dibutuhkan kesabaran dan ketekunan. Siapa coba mertua yang tidak mau punya menantu sabar dan tekun? #EH #salahfokuskuadrat

Maka saya lakukan lagi revisi terhadap esai saya dan saya minta teman saya untuk review lagi. Anyway, baik sekali bukan teman-teman saya ini? Betapa bersyukurnya saya.

Mini Essay for IChiYEP (2nd Update)_readbyKakNanda

YUHU THE LAST PART!

Saya tidak bisa share bagaimana esai akhirnya karena dokumennya tidak saya simpan. Saat itu saya langsung ketik di form online pendaftaran IChiYEP. Tidak jauh berbeda kok dengan esai revisi saya yang terakhir hehe, maafkan yha.

SAYA CUMA MAU BILANG,

Kamu tahu berapa kali Thomas Alva Edison gagal sebelum berhasil dalam penemuannya?

Saya sih tidak tahu, haha.

Secara ada banyak versi, ada yang mengatakan Edison telah mencoba 999 kali lalu percobaan yang ke-1000 berhasil. Ada yang mengatakan versi lain, tidak jelas mana yang benar.

Yang jelas Edison tidak menyerah dalam mencoba.

Dikutip dari salah satu artikel Forbes, Thomas Alva Edison mengeluarkan pernyataan seperti ini.

“I have not failed 10,000 times. I have not failed once. I have succeeded in proving that those 10,000 ways will not work. When I have eliminated the ways that will not work, I will find the way that will work.”

Lihat bukan betapa optimisnya Edison?

Pemahaman bahwa ia tidak gagal, ia hanya menemukan bagaimana cara yang keliru untuk kemudian menemukan cara yang benar, adalah perspektif yang briliant menurut saya. Edison saja tidak menyerah untuk menjadi lebih baik. Maka saya dan kamu, yang hidup di zaman serba mudah, harusnya lebih gigih lagi bukan?

 

Selamat menulis dan terus mencoba!

Advertisements

2 thoughts on “Tips Tanpa Trik: Bagaimana Membuat Esai untuk Exchange Program

  1. Pingback: Rezeki dari Jalan yang Tak Diduga: Rencana ke Tiongkok, Berangkat ke Jepang | drmahita's journal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s