Untuk Dibaca, Tidak Untuk Dicontoh: Shinzui dan Permintaan Maaf

Entah pada hari apa yang saya lupa, saya dan Dhea (sahabat saya) pergi ke Lotte Mart di Kuningan City. Dhea ingin membeli sesuatu yang kata dia cuma ada di Lotte Mart. Layaknya perempuan-perempuan pada umumnya, saya dan Dhea juga kalau pergi kemana-mana saling menemani satu sama lain. Setelah mendapatkan produk yang Dhea inginkan, saya adn Dhea berjalan menuju rak produk perawatan kulit karena saya ingin membeli Natur-E Face Cream. Anyway saya rasa produk Natur-E Face Cream bagus, tidak ada efek membuat kulit wajah lebih putih sih. Tapi tekstur krimnya ringan dan tidak terlalu membuat wajah (saya yang sudah cenderung berminyak) tambah berminyak.

Saat saya bersama Dhea, biasanya mood saya jadi lebih santai. Bahkan jadi cenderung sering bercanda atau ganggu Dhea. Dhea sih sudah biasa. Termasuk saat di Lotte Mart, sepanjang berjalan menyusuri rak-rak, saya bicara melulu, tertawa, bercanda terus. Sebelum sampai di rak yang saya dan Dhea tuju, ada seorang Sales Promotion Girl (SPG) yang menghampiri. Mbak SPG tersenyum ramah dan menyodorkan sebuah produk terbaru dari merek Shinzui. Begini pembicaraan yang terjadi antara saya (S) dan Mbak SPG (M).

M: Permisi Kak, Shinzui lagi ada produk terbaru loh.

S: (berhenti untuk mendengarkan, masih sambil bercanda sama Dhea)

M: Jadi ini lulur dari Shinzui, mudah pemakaiannya. Hanya tinggal dioleskan lalu digosok saja, maka kotoran akan terangkat Kak. Tidak perlu pakai air loh. Bisa dipakai dimana saja. (Mbak SPG ramah sekali)

S: Wah gitu ya Mbak. Nanti kalau dipakai dimana saja, ih itu saya jadinya ngotor-ngotorin tempat dong ya. Hahaha (ini masih terbawa mood bercanda dengan Dhea)

M: Eh…hem iya sih Mbak. Saya kadang pakai saat perjalanan di mobil, ya agak bikin kotor sih hehe.

S: Nah itu dia Mbak. Nanti kotor dong ya dimana mana. Ahahaha (ini masih ketawa hasil kebanyakan bercanda sama Dhea.)

Lalu saya dan Dhea kembali berjalan bersisian menuju rak produk perawatan kulit. Eh, saya tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Ira, sesuatu. Rasa-rasanya kok ya saya telah melakukan kesalahan. Sepanjang mata menyusuri nama-nama produk di rak, saya berpikir apa hal yang membuat perasaan saya itu ‘nggak enak’ ya. Hem. Mata saya berhenti pada sebuah produk, masuklah Natur-E Face Cream kedalam keranjang belanja. Ting Tong! Saya rasa saya tahu apa yang rasanda mengganjal ini. Lalu saya tanya Dhea.

“Dhe, tadi gue jawabnya nggak bagus ya?” Maksudnya saat saya menjawab penawaran Mbak SPG.

Lalu Dhea mengangguk dengan wajah yang saya kategorikan serius. Lalu saya bertanya lagi.

“Harusnya gue nggak ngomong kayak gitu ya tadi, Dhe?”

Dhea menjawab ,”Iya Ta.”

Astagfirullahaladzaim. Kelakuan saya tuh ya. Kebanyakan bercanda, kebanyakan tertawa. Sampai tidak sadar kalau seharunya merepons orang yang ramah bukan seperti tadi. Ya terlepas dari memang SPG harus tersenyum ramah, tapi kan saya bisa merespon dengan lebih baik. Terus saya menjadi tidak mood bercanda lagi. Saya diam saja telama 2 menit sementara Dhea sedang melihat-lihat produk perawatan kulit. Lalu saya bilang “Dhe, gue mau minta maaf, terus gue beli aja shinzui-nya. Temenin yuk.” Lagipula memang saya tidak pernah punya stok lulur, seringnya memakai lulur milik Mama. Saya pun berjalan menuju tempat tadi bertemu Mbak SPG. Mbak SPG sedang berdiri dekat rak yang berisi lulur badan.

S: “Mbak, aku minta maafnya tadi jawabnya kayak gitu.”

M: “Eh gapapa kok Mbak.” Mbak SPG masih tersenyum ramah.

S: “Iya, aku kebanyakan bercanda Mbak. Jadi kebablasan gitu deh.”

M: “Ih Mbak, beneran gapapa.”

S: “Mbak aku mau beli ya lulurnya satu.”

M: “Eh beneran nah Mbak?”

S: “Hehe, iya Mbak?”

M: “Ini wanginya ada dua Mbak. Ini best seller loh waktu saya di Giant.”

Shinzui Body Scrub.jpg

Shinzui Body Scrub Adzuki Beans

Lalu obrolan mengenai produk lulur shinzui tersebut menjadi lebih panjang dari yang saya rencanakan. Keranjang belanja pun bertambah satu produk lulur shinzui. Alhamdulillah, saya pun telah menghaturkan maaf pada Mbak SPG. Ya tadi sebenarnya saya malu untuk kembali ke Mbak SPG dan minta maaf. Malu, padahal sepertinya saya lebih terpelajar tapi kelakuan kok ya tidak elegant. Maka respon burok saya kepada Mbak SPG tidak untuk dicontoh, jelas itu. Setidaknya sudah saya perbaiki sebisa saya. Semoga perilaku kurang baik ini tidak saya ulangi pun dan saya yakin kamu yang membaca ini pasti lebih baik dari saya 🙂