Menyatakan Cinta pada 22 November

Ada banyak hal yang tersimpan dalam memori saya, salah satunya mengenai pertemanan. Hari ini, seorang teman bertambah umurnya. Saat ini, saya bahkan belum memberikan ucapan selamat. Saya lebih ingin menuangkan apa yang selama ini saya rasa, saya alami, dan saya ambil hikmahnya setelah mengenal teman saya yang satu ini.

Kesan Pertama

Organisasi kemahasiswaan ialah sarana bertemunya saya dan dia. Awalnya, saya dengan sombongnya berpikir bahwa teman saya ini tidak keren dan saya malas juga sepertinya menjadi ‘dekat’ dengan dia. Sejujurnya pikiran seperti itu muncul karena penilaian saya akan penampilan. Yeah, hanya karena bagi saya cara berpakaiannya tidak menarik maka saya serta merta berpikiran buruk. Hello, siapa gue coba kan? Ya, itu masa salu lah ya. Memang tidak perlu dicontoh. Huhuhuhuhu *nangisdipojokan

Mengenal Lebih Dekat

Tahun berganti, ternyata saya dan dia masih bertahan pada organisasi yang sama. Mulailah kami ‘bersentuhan’ dalam berbagai kepentingan. Semua masih biasa saja. Interaksi saya dan dia masih wajar, belum ada benih cinta sama sekali #EH. Hal-Hal yang kami lakukan belum sampai personal talk, masih banyak mengenai kegiatan organisasi. Selang beberapa waktu, akhirnya kami saling mengenal tapi saya rasa belum pada kategori ‘dekat.’

Tahun Ke-2, Konflik Melanda

Saya mengajak beberapa teman untuk mengikuti konferensi di Turki. Tentu sebelumnya saya perlu melakukan penelitian, salah satu yang saya ajak adalah teman saya ini. Awalnya kami sama-sama bersemangat, bergairah melakukan penelitian hingga mencari sponsor. Saat penelitian telah berjalan, ternyata sifat-sifat kami bertabrakan. Saya yang fast and furious, sementara dia lebih kepada alon-alon asal kelakon. Saya tidak kenal istirahat, semua harus progress. Saya tidak kenal excuse, maklum anaknya idealis. Bukan berarti teman saya ini tidak idealis atau berkebalikan dengan saya. Namun, memang pendekatan kami dalam memahami sesuatu berbeda, cara kami bereaksi pun berbeda. Berbeda, jauh. Akhirnya, saya yang straight to the point ini secara tidak langsung ‘mengeluarkan’ dia dari penelitian ini. Saat itu saya pikir ‘Ya bodo amat, nggak ada lo juga gue jadi makin pintar karena usaha gue bakal lebih. Gue bakalan lebih banyak belajar.’ Saya tidak memiliki nurani sedikitpun untuk mencoba berbicara dari hati ke hati dengan dia. Kehidupan keras bung, semua perlu usaha, tidak ada tuh yang namanya moody-moody. Ya, itu saya, saya yang dulu. Sejak saat itu, pertemanan kami renggang. Ih, malas sekali saya lihat wajahnya. *anaknyasukajahat

Saling Memahami

Saya lupa mulai kapan, tahu-tahu saja kami menjadi ‘dekat.’ Banyak cerita yang kami bagi, banyak kegalauan yang kami tukar. Banyak tawa dan canda antara obrolan kami. Ya, ternyata kami memiliki salah satu latar bekalang yang sama hingga muncul perasaan ‘senasib.’ Setidaknya itu yang saya rasa. Saya mulai menalar bahwa teman saya ini ternyata menyenangkan untuk diajak bercerita, cocok untuk diajak bercanda.

f10a660972dabb14aeab87ccf27de2c8

Sumber dari sini

Jalan-Jalan dan Bercanda-Canda

Saya yang memang senang pergi sana-sini, sering mengajak dia untuk ikut. Asyiknya, dia juga sering mau. Dari jalan-jalan ke mall, hingga ke moneychanger. Dari naik uber, hingga jalan kaki sampai keringat bercucuran. Saya biasanya suka menggoda dia, biasanya saya bercandain hingga saya puas. Tapi bercandaan saya tidak patut dicontoh hahaha. Hal yang saya jadikan candaan ya saya mem-bully teman saya ini didepan orangnya langsung. Terus saya berakhir ketawa-tawa, nanti dia juga ikut senyam-senyum atau paling parah saya digigit paling #LAH. Tapi saya tidak kapok, saya gangguin saja dia terus. Habis bagaimana ya, asyik gitu. Terus saya suka nempel-nempel dia, pegangin tangannya, cubit-cubit, sampai dia teriak-teriak. Kadang bahkan dia mencubit balik. Yaudah deh saya berhenti. Tapi cuma 10 menit, abis itu lanjut lagi gangguin. Hahahaha.

Hobi Makan dan Beli Baju

Berhubung saya suka kemana-mana, tentu saya menemukan berbagai macam jajanan dari yang murah hingga yang mahal. Apalagi kalau ke mall, wah banyak sekali pilihan baju yang bisa dibeli. Ternyata, teman saya ini juga suka makan dan suka beli baju. Wah sepaket lah saya dan dia. Kalau lagi di kampus, jajanan kita bisa macam-macam. Awalnya makan di kantin, selesainya makan tahu jletot, abis itu makan snack seminar, masih juga cemilin bread talk. Itu semua kami lakukan berdua, saya makan dan dia makan. Tapi saya masih waras, saya tahu bahwa hemat itu perlu. Pada suatu kesempatan kami pergi berdua ke mall, saya bilang “Eh kita makannya berdua aja yuk, kalau kurang baru kita beli lagi. Kan seharusnya makan nggak sampai kenyang.” Teman saya setuju, akhirnya kami makan sepiring berdua. Romantis bukan? Eh dasarnya suka makan, kami pun beli satu porsi makanan lain. Bahkan diakhiri makan kue cubit juga. Sesuatu banget lah kelakukan saya dan dia ini. Begitupun dalam hal beli baju. Dengan rezeki yang Allah Swt berikan, banyak hal yang bisa kami beli. Paling suka kalau ada pameran, banyak baju muslimah-friendly gitu. Awalnya saya kira dia tidak suka membeli baju tanpa ada rencana, ternyata sama saja dengan saya, hihihihi.

Mulai Cinta

Saya sadar betapa teman saya ini telah memiliki ‘tempat’ spesial di hati saya. Dari awalnya saya malas dekat-dekat dan bahkan sedari awal tidak ingin menjadikan dia sebagai ‘inner circle.’ Tapi sekarang berkebalikan. Betapa Allah Swt ialah Maha Kuasa yang bisa membolak-balikkan hati. Bahkan dengan menjadi dekat dengan teman saya ini, ada sebuah pemikiran baru yang muncul.

Sebagaimanapun aneh penampilan seseorang, semalas apapun orang tersebut, setidakmeyakinkan apapun cara bicaranya. Perlakukan ia sebaik mungkin. Karena orang tersebut ialah kesayangan dari orang lain. Pikiran itu muncul karena ada suatu rasa dalam hati saya, sebuah keinginan agar teman saya ini selalu diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Selalu disayang sebagaimana saya menyayanginya.

Saya rasa itu saja yang mau saya tuliskan karena saya mengantuk, hehe. Selamat ulang tahun ya buat kamu yang berulang tahun. Kamu tahu kan kalau saya sayang sama kamu? Cium boleh tidak? Haha, bisa ditabok saya. Kangen nih saya sama kamu. Kangen shalat bareng, kangen ibadah bareng. Oriya, saya pun punya birthday wishes buat kamu, tapi biar Allah yang tahu aja ya 🙂

Semoga pertemanan sederhana kita berlanjut di syurga ya.

 

 

Advertisements

I watch this on Saturday and I cried

“Somehow I realised my mother gives me the so called unconditional love. Because my choices always up to me, she never really forced me into anything. She nourished me, feed and watered me, so I can stand up because I am fully equipped with almost whatever I need.” – 12.23 on LINE chat.

A friend of mine told me to watch a ted video about over-parenting. I cried after seeing the video. I was moved and I recap all episodes of my life until now. Then I realized I can’t be more proud of my mom. She never forced me to become what she wants, she gives me advices and never doubt my choice even though it is something different.

Julie Lythcott-Haims: How to raise successful kids without over-parenting

You should watch this too. Hope you’ll find it inspiring 🙂