4 Perlakuan Mengecewakan Interviewer yang Saya Mengerti Setelah Menjadi Interviewer dalam Wawancara Kerja

Masih saya ingat waktu-waktu saat saya mengalami proses wawancara. Baik wawancara untuk magang, dan untuk kerja. Ada beberapa perlakuan interviewer yang membuat saya kecewa saat wawancara kerja. Iya perlakuan yang membuat saya berpikiran negatif, hiks. Padahal sebenarnya belum tentu negatif, saya akhirnya mengerti sebab dari kelakuan interviewer karena tiba saatnya saya pun melakukan interview di kantor. Ini cerita saya.

o-job-interview-facebook

Sumber gambar dari sini.

1) Saat interviewer sibuk melihat laptop, padahal saya sedang menjelaskan jawaban dari pertanyaan yang diajukan.

Saya tuh suka baper gitu, merasa “penjelasan gue jelek banget apa ya sampai ga diperhatiin gini, hiks.” Terus jadinya saya mencoba tetap senyum dan santai, padahal hati nggak karuan.

Kenyataannya:

Saat saya menjadi interviewer, saya sendiri bahkan bawa-bawa laptop ke ruang interview. Deg! Saya jadi ingat betapa sedihnya saat interviewer lebih sering melihat laptop daripada fokus pada saya saat wawancara. Tapi……….saya butuh bawa laptop karena memang banyak pekerjaan. Saya bukan bawa laptop saja, melainkan saya BUTUH bawa laptop. Kadang interview yang dilakukan belum terjadwal sebelunya atau diberitahu baru pada pagi hari. Saya rasa, sekalipun jadwal interview diberitahukan seminggu sebelumnya pun, kemungkinan saya akan membawa laptop tetap besar.

Ya mau bagaimana? Banyak yang perlu dikerjakan. Sementara kami (saya dan rekan kerja) butuh bantuan dari staff baru. Kalau tidak ada rekrutmen, mau sebanyak apa pekerjaan kami nanti.

2) Saat interviewer lebih dari satu orang dan mereka mudah sekali keluar-masuk pada saat proses wawancara berlangsung.

Saya kadang agak baper juga kalau interviewer lebih dari 2 orang, tapi mereka malah keluar-masuk ruangan. Ya agak jadi distraction aja. Terus kesannya tidak dihargai gitu, bagi saya. Huhuhu maafkan hamba yang baperan ya Allah.

Kenyataannya:

Satu departemen berisi beberapa orang dan saat ada orang baru mau direkrut, jelas saja kami ingin melihat dengan langsung seperti apa orangnya. Bagaimana cara bicaranya, apa alasannya mendaftar lowongan kerja dsb. Jadi ya kami sebenarnya excited sekaligus penasaran dengan orang baru, tapi…….kadang interviewer-interviewer dipanggil atasan mendadak. Atau ada meeting yang jadwalnya berbenturan dengan jadwal interview, namun tetap ingin melihat calon yang di-interview. Atau memang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, tapi merasa perlu melihat si calon pekerja baru. Ya banyak sekali alasan mengapa seorang interviewer keluar-masuk ruangan.

Saya sendiri pernah diminta manager untuk jadi interviewer, namun saya menolak karena load pekerjaan yang cukup menyita waktu. Namun akhirnya saya pun masuk ruangan interview selama 10 menit karena saya butuh tahu kemampuan Ms. Excel si calon pekerja baru dengan cara mengetes sendiri kemampuannya di laptop saya.

3) Pada saat interviewer sibuk dengan handphone atau bahkan menerima panggilan dalam tempo yang tidak sebentar.

Saat sedang menjelaskan dengan semangat, berapi-api layaknya semangat pejuang muda saat kemerdekaan, ealah Bapak interviewer malah menerima panggilan telepon dan fokusnya bukan ke saya. Again, saya sedih pemirsa. Tapi harus tetap senyum dan semangat kan ya? Yuk lah demi kehidupan yang lebih baik.

Kenyataannya:

Sebenarnya menarik dan penasaran saat mendengarkan pemaparan calon pekerja baru, apalagi kalau calon pekerjanya cerdas. Tapi……kalau atasan menelepon dan memang ada pekerjaan penting……itu deh yang menang. Ya maunya mendengarkan penuturan si calon pekerja, tapi apa daya kebutuhan laporan ke atasan atau ditanya rekan kerja tidak bisa dihindari. Maafkan saya ya Mbak-Mbak semua yang pernah tidak saya perhatikan dan justru angkat telepon, bukan maksudku Mbak.

4) Pada saat ada interviewer yang sama sekali tidak fokus dengan penjelasan saya, dari awal hingga akhir proses wawancara.

Sudah paling sedih lah ya kalau dari awal sampai akhir kamu nggak perhatian sama aku? Jadi hubungan kita cuma sebatas ini? EH jadi salah fokus saya, hihihihi. Dari beberapa interviewer, pernah ada dalam kehidupan saya seorang interviewer yang datang hanya sebentar dan tidak fokus pada saya selama sesi wawancara. Saya? Wah, ya tetap senyum SPG ditambah menjawab sejelas mungkin layaknya customer service.

Kenyataannya:

Saat saya hanya sebentar masuk ruangan interview untuk mengetes kemampuan Ms. Excel, nah pada saat itu saya pun tidak terlalu fokus pada calon pekerja. Saya hanya masuk ruangan, memperkenalkan diri, menjelaskan kalau sata mau mengetes, lalu menyodorkan soal dan laptop. Sisanya saya biarkan si calon pekerja mempergunakan laptop saya, saya nya sibuk dengan handphone. Saya sibuk dengan handphone dengan perpaduan balas chat penting sambil mikirin apa pekerjaan yang masih ditunggu. Bukannya tidak mau memperhatikan, tapi ya saya memang tidak pintar-pintar amat sehingga banyak hal yang belum selesai.

Nah itulah hal-hal yang saya mengerti setelah mengalami sendiri bagaimana menjadi seorang interviewer. Sehingga sebelum wawancara biasanya saya membuka dengan intro “Mbak, jika nanti saya atau rekan kerja saya sibuk melihat laptop atau hp, bukan berarti kami tidak menghargai Mbak ya. Kami juga ada kerjaan yang ditunggu-tunggu.”

Pada dasarnya saya butuh tahu karakteristik calon rekan kerja baru dengan bertemu dan mewawancarainya, tapi kerjaan saya belum selesai. Huhuhu, untuk Mbak-Mbak yang sakit hati semoga dimaafkan. Untuk Mbak-Mbak yang sakit hati dan mencoba ikhlas, semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik ­čÖé

 

 

Advertisements