Catcall & Dilema Muslimah Milenial

Salah satu hal yang menjadi obrolan antara saya dan sahabat saya sejak kami menginjak masa SMA ialah mengenai masteng alias mas-mas tengil. Dhea, sahabat saya, paling malas jika saya minta diantar ke pangkalan ojek setelah main di rumahnya. Alasannya ia malas kalau masteng-masteng berisik, bahasa kerennya sih catcall.

catcall

Pronunciation: /ˈkatkɔːl/

A loud whistle or a comment of a sexual nature made by a man to a passing woman. – oxforddictionaries.com

Ya catcall kalau ditranslasikan ke Bahasa Indonesia semacam ‘digodain abang-abang di jalan.” Wgwgwgwg maaf ngarang, maafin Baim yha? Nah salah satu hal yang ambigu dan menjadi bahan pikiran saya ialah saat ada mas-mas atau bapak-bapak yang saat ada perempuan seperti gue (baca: berkerudung) lewat, langsung bilang “Assalamualaikum Neng.”Nah loh, salam harusnya di jawab kan ya? Jawab salam dalam hati boleh kan ya? Duh bingung, phone a friend boleh? Atau 50:50 deh nggak apa-apa. #dikira who wants to be a millionaire.

Sementara ada beberapa asumsi di pikiran saya mengenai mas-mas pelaku catcall “Assalamualaikum Neng” ini:

  • Iseng, ganjen, genit, nggak bisa lihat perempuan lewat dikit.
  • Perempuan yang lewat cantik, eh kebetulan pakai hijab, ya sapa dikitlah.
  • Masha Allah, jilbabnya rapi. Jadi pingin biläng “Asslamualaikum Beijing”*lah?
  • Mas nya sebenarnya bukan catcall tapi lagi social experiment kekinian untuk mengucapkan salam.
  • Mas nya terlalu religius hingga menjalankan sunnah mengucapkan salam bahkan kepada orang tak dikenal, kebetulan wajahnya emang tengil.

Nah tuh, banyak kan asumsinya? Atau kamu ada asumsi lainnya? Share atuh di kolom komentar. Ya sebenarnya bisa saja saya berprasangka baik aja gitu ya, saya anggap aja mas nya terlalu religius seperti poin terakhir. Tapi saya takutnya menjawab salam malah bikin mas-masnya menjadi-jadi. Menjadi rajin mengucapkan “Assalamualaikum Neng” pada ciwi-ciwi yang lewat selanjutnya. Lah, nggak apa-apa sih ya harusnya. Mengucapkan salam kan artinya indah-indah apa gitu.

Dikutip dari muslimah.or.id,berkata sebagian ulama bahwasanya salam adalah salah satu nama dari nama-nama Allah sehingga kalimat ‘Assalaamu ‘alaik’ berarti Allah bersamamu atau dengan kata lain engkau dalam penjagaan Allah. Sebagian lagi berpendapat bahwa makna salam adalah keselamatan sehingga maknanya ‘Keselamatan selalu menyertaimu’. Yang benar, keduanya adalah benar sehingga maknanya semoga Allah bersamamu sehingga keselamatan selalu menyertaimu.

Nah, sweet kan artinya? Setiap memberikan dan menjawab salam seperti menebarkan doa-doa kebaikan di sekeliling kita. *lap air mata #ceritanya terharu. Ada satu kejadian yang cukup membekas di benak saya. Waktu itu sore hari, saya cukup lelah dan sedang berjalan kaki ke arah rumah.

Ita: *jalan kaki, wajah lelah, udah bayangin kamar ber-AC

Bapak Tak Dikenal: Assalamualaikum! *sambil ngeliatin saya, wajahnya senyum, entah senyum maksudnya apa karena saya hanya lihat dari ekor mata.

Ita: *saya lempeng, jalan terus

*beberapa detik berlalu, diiringi backsound desingan kendaraan area pinggir jalan

Bapak Tak Dikenal: Waalaikumussalam…Neng. *suaranya agak teriak dan buru-buru, entah doi kaget karena saya nggak jawab atau kenapa.

Ita: *tetap lempeng

Saat itu sebenarnya saya nggak tega nggak jawab salam Bapaknya. Saya jawab sih dalam hati gitu. Tapi sampai Bapak Tak Dikenal jawab sendiri kan kayaknya sesuatu gitu. Jangan-Jangan Bapaknya berniat baik lagi? Duh Gusti, jangan jadikan ini dosa saya. Aamiin. Biasanya sih saya kalau ada yang catcall cuek. Kecuali jika saya yakin mas-mas atau bapak-bapak yang mengucapkan salam berwajah tulus (apa coba indikator wajah tulus? Ya kek wajahnya Tulus yang nyayi “mereka panggil aku gajah” itu #ngaco), biasanya saya jaba salamnya tanpa melihat ke arah mereka dengan keadaan wajah saya nggak tersenyum dan nggak cemberut, ya semacam wajah serius menghadapi hidup #apasih.

Nah kalau menurut kamu, kalau akika di “Assalamualaikum Neng”, akika harus apa?

Jurnal Umrah (2): Kalau Ibadah Sebrutal Ini, Lebih Baik Saya Keluar dari Raudhah

Tahu tidak?

Salah satu hal menantang dalam bercerita melalui tulisan ialah mengingat kembali kronologi hal yang ingin diceritakan dan memastikan hal tersebut benar, karena nantinya akan ada orang lain yang membaca. Mengingat saat ingin melakukan umrah pernah bingung akan aktivitas di Madinah dan Makkah, maka dengan segenap semangat saya coba melanjutkan jurnal umrah ini. CIAT! Bismillah!

Agar lebih jelas mengenai cerita umrah, saya sarankan baca jurnal umrah saya sebelumnya ya disini.

(Masih di hari yang sama yaitu Kamis, 18 Februari 2016)

Setelah shalat subuh di Masjid Nabawi, saya mendapat beberapa pengarahan dari pihak Gardi Tour.

  • Jadwal Makan: Makan pagi setelah shalat subuh, makan siang setelah shalat dzuhur, makan malam setelah shalat isya. Jadwal ini sama untuk semua jamaah umrah dari biro perjalanan apapun.
  • Pastikan untuk bersama dengan teman sekamar, setidaknya berdua/bertiga saat ingin pergi keluar dari kamar. Katanya sih laki-laki Arab ‘haus wanita,’ hem kayak vampir jenis baru kali yha. Katanya juga sih menikahi wanita Arab itu mahal, maharnya satu unta gitu, makanya mereka ‘haus wanita,’ nyambung nggak sih korelasinya? Duh akika juga sebagai yang nulis bingung juga nich.
  • Pastikan selalu memakai tanda pengenal yang diberikan.

Setelah makan pagi, saya kembali ke kamar untuk mandi dan istirahat sebentar, ya sejenis tidur-tiduran cantik melepas lelah tapi tidak tidur layaknya malam hari. Saya, Mama, Tante saya, dan Mami (teman sekamar saya yang usianya sudah seperti nenek saya) sepakat untuk segera ke Masjid Nabawi setelah membersihkan diri masing-masing. Hotel yang saya tempati dekat dengan Gate 17 Masjid Nabawi.

 

Aktivitas di Masjid Nabawi hingga Shalat Dzuhur

Setelah berjalan kaki sampai ke dekat pintu masuk Masjid Nabawi. Saya dan Tante saya agak berbeda pendapat mengenai tempat menaruh sandal.

Saya: Taruh sandal di rak yang disediakan saja, simpel dan praktis.

Tante: Sebaiknya simpan sandal di plastik yang sudah dibawa, lebih aman.

Saya: Tega sekali kalau di Masjid ada yang mencuri.

Ya pengalaman saya yang sepatunya pernah dicuri saat di Mushalla fakultas tidak membuat saya ingin menyimpan sandal di plastik, gimana ya, kalau ditaruh di rak ya asik aja gitu, praktis. Akhirnya saya menaruh sandal di rak, Mami juga melakukan hal yang sama. Ohiya, tidak lupa tentu kami berfoto di depan pintu masuk Masjid Nabawi yang megah dan di pelataran Masjid.

IMG_20160218_083052_BURST2.jpg

Tante, Mami, Mama, Saya

 

Setelah melakukan shalat dhuha, saya mengambil air zam-zam (yang original, bukan crispy #apasih, inget kan cerita Jurnal Umrah 1 kalau air zam-zam asli hanya di dalam Masjid Nabawi?) yang disediakan dalam wadah-wadah di area dalam Masjid Nabawi. Disarankan untuk membaca niat minum air zam-zam. Doa saya seraya meneguk air zam-zam, yang disunahkan sebanyak 3 kali, ialah agar saat umrah saya dimampukan Allah Swt agar jauh dari pikiran negatif.

Doa Nabi Saw saat meminum air zam-zam:

Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon waasi’an wa syifa’an min kulli daa-in

Ya Allah aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizqi yang luas, dan kesembuhan dari segala macam penyakit“.

Sumber, dari sini.

Setelah minum air zam-zam, saya galau. Hem, ya galau agak bingung gimana gitu. Begini ya, kalau sehari-hari saya bangun pagi, pergi ke kampus hingga siang, masuk kelas lagi, lalu rapat organisasi. Nah sekarang, waktu saya sangat lapang untuk beribadah. Saya jadi grogi mau ibadah apa, hihi. Walaupun internet handphone saya masih berfungsi, opsi bercengkrama dengan handphone rasanya bukan hal yang baik untuk dilakukan. Saya rasa lupakan urusan di Jakarta adalah pilihan yang tepat. Berhubung saya masih grogi di rumah Allah ini, akhirnya saya berjalan melihat-lihat area dalam masjid. Setidaknya saya menemukan beberapa hal terkait Masjid Nabawi.

  • Ada area menaruh sandal di banyak tempat, sehingga tidak perlu khawatir akan menaruh sandal di sembarang tempat.
  • Ada area shalat wanita yang khusus untuk wanita yang tidak membawa anak.
  • Ada rak-rak berisi ratusan (berapa lapis? Ratusannnn #krik) Al-Quran.

Setelah saya sudah tidak terlalu grogi, saya ingat bahwa seharusnya dari tadi saya niatkan diri untuk i’tikaf alias berdiam diri di Masjid. Setidaknya dengan diniatkan saja, in sha Allah diam di Masjid pun akan berpahala. Saya, Mama, Tante, dan Mami akhirnya melakukan shalat sunnah masing-masing. Kami melakukan berbagai macam shalat sunnah yang kami inginkan. Setelah itu kami tilawah alias membaca Al-Quran. Dilanjutkan dengan berbincang bersama, dilanjutkan tadarus lagi. Aduh kagoknya, hidup macam apa ini? Belum pernah rasanya hidup dipenuhi Masjid begini? Ah terharu. Lalu, waktu shalat dzuhur pun datang.

IMG_20160218_104114_AO_HDR (1).jpg

Saya yang galau berlatar area dalam Masjid Nabawi

 

Aktivitas Setelah Shalat Dzuhur hingga Shalat Isya

Setelah shalat dzuhur, saya kembali ke hotel untuk makan siang. Belum ada kegiatan dari Gardi Tour hingga nanti malam, sehingga setelah memperbarui wudhu, saya kembali ke Masjid Nabawi. Aktivitas saya ya beribadah, mulai dari shalat sunnah, membaca Al-Quran, hingga menyapa Ibu-Ibu Arab di samping saya.

  • Tentang Wudhu

Menurut saya, wudhu di Masjid Nabawi menjelang shalat adalah hal yang sebaiknya dihindari. Penuhnya minta ampun. Ramainya minta ampun. Kalau belum familiar dengan Masjid Nabawi, bisa lupa loh jalan kembali ke tempat tadi duduk di area dalam masjid, hayoloh! Hihi, jadi wudhu di tempat wudhu di area Masjid Nabawi ya tidak berbahaya, hanya saja saya sarankan untuk wudhu setidaknya 40 menit sebelum waktu shalat.

SOLUSI!

Saya baru sadar hal brilian ini saat di Makkah, tapi saya ceritakan sekarang saja. Jujur saja, buang angin adalah hal yang tidak bisa dihindari. Buang angin ya tidak masalah, tapi hal tersebut membatalkan wudhu. Kalau setelah wudhu saya buang angin, saya ambil wudhu, lalu saya buang angin lagi dan saya ambil wudhu lagi, repotnya nggak kuat akika. Maka saya memilih untuk selalu membawa air minum saat shalat dan wudhu di tempat saya duduk. Cukup wudhu yang wajibnya saja dan tidak perlu dibasuh tiga kali. Tenang, sudah saya pastikan hal tersebut diperbolehkan dengan bertanya ke Ustadz Fathur selaku Muthawwif (Hem, Muthawwif apa ya, saya lupa). Caranya mudah sekali, ketik REG spasi Wudhu. Hehe maaf candaa kok. Untuk wudhu yang lebih memudahkan, bisa lakukan hal berikut ini.

  • Basuh tangan sampai siku.
  • Basuh seluruh wajah.
  • Basuh ubun-ubun.
  • Basuk kaki sampai mata-kaki.

Ohiya basuh dengan air secukupnya saja, tidak perlu berlebihan, tidak perlu sampai airnya tumpah ke karpet shalat. Kalau airnya tumpah sedikit atau setetes-tetes masih wajarlah.

  • Tentang Shalat Ghaib

Setelah shalat wajib, biasanya tidak lama dilanjutnya dengan shalat ghaib. Silahkan klik ini dan ini, untuk tahu lebih lanjut mengenai shalat ghaib.

  • Tentang Anak Kecil yang Dibawa Ibunya Shalat

Entah kenapa kalau di Indonesia, rasanya melihat anak kecil teriak-teriak di area shalat kadang membuat kesal. Alhamdulillah, saya tidak merasakan hal yang sama lagi. Jadi tuh ya, di area shalat wanita yang umum, banyak sekali Ibu yang membawa anaknya. Anak-anak kecil ada yang duduk manis, ada yang merengek, ada yang menangis, ada yang teriak-teriak senang, ada yang lari kesana-kemari. Wah salut dengan kesabaran para Ibu. Rata-Rata Arabian mom yang saya lihat sepertinya sangat pengertian terhadap anaknya, tidak marah saat anaknya menangis atau merengek saat si Ibu shalat. Hem, tidak mudah mendeskripsikan sabarnya mereka, bagaimana kalau kamu lihat sendiri disini? Hihi.

IMG_20160218_083512_AO_HDR.jpg

Lokasi Foto Favorit Semua Jamaah

Aktivitas Setelah Shalat Isya hingga Larut Malam.

Setelah shalat isya, saya kembali ke hotel untuk makan malam. Setelah keluar Gate 17, biasanya ada semacam ‘pasar kecil’ dekat Gate 17 Masjid Nabawi. Orang-Orang Arab menggelar dagangannya dengan tikar atau gerobak. Lalu tidak perlu heran saat kamu, jamaah Indonesia, diteriaki “Sini, sini, murah, murah.” Beberapa hal yang bisa dibeli di ‘pasar kecil’ ini ialah.

  • Coklat
  • Kerudung pashmina
  • Kismis, kurma
  • Pakaian: Abaya hitam, gamis untuk laki-laki

Mama pernah membeli kismis, saat membeli ya menggunakan Bahasa Indonesia, pun saat menawar harga. Sayangnya kadang Mas-Mas Arab penjual belum bisa melakukan penghitungan dalam angka Indonesia. Jadi si Mas Arab Penjual Kismis bisa bilang harganya dua puluh per kilo, tapi nanti Mas Arab Penjual Kismis akan bingung jika dua puluh per kilo nya ada tiga, ditambah yang harganya lima belas, lalu diminta diskon lima riyal. Kasihan deh, ya in sha Allah semua pembeli Mas dan Mbak Arab Penjual apapun akan jujur lah ya 🙂

Ohiya, menurut saya kalau di Korea Selatan gaya berbusana perempuan dan laki-lakinya terasa menarik, sama hal nya dengan disini. Terlebih melihat laki-laki disini secara fashion, rasanya lucu sekaligus menarik. Baik laki-laki Arab maupun jamaah Indonesia, banyak yang memakai gamis. Aduh lucu deh, gayanya itu loh, beda banget. Banyak sih laki-laki pakai celana, tapi yang pakai gamis juga banyak. Terus pakai gamis membuat aura para laki-laki berbeda, lebih berkharisma, lebih…….Arabian edition #lah.

Sekitar pukul setengah sepuluh malam, barulah saya mengikuti kegiatan yang dijadwalkan untuk hari ini. By the way, tulisan akika udah panjang beut, jangan bosen yha.

Mengunjungi makan Rasulullah Saw dan Raudhah.

Dahulu kala di Madinah, Masjid Nabawi itu tidak seluas sekarang. Luasnya hanya sekitar 30 meter dikali 35 meter, sederhana sekali. Kalau sekarang sudah megang, mungkin 5 kali luas Masjid Istiqlal. Masih dalam area Masjid Nabawi, ada makam junjungan umat muslim seluruh dunia, Nabi Muhammad Saw. Rasulullah meninggal di pangkuan istrinya, Aisyah ra, dan dikuburkan di kamar Aisyah yang berarti Rasulullah dikuburkan di rumahnya sendiri. Berhubung rumah Rasulullah dan Masjid Nabawi dekat, ada area yang di sebut Raudhah. Raudhah sendiri artinya taman-taman surga, area yang disebut Raudhah dihitung dari jarak rumah Rasulullah hingga mihrab yang biasa Rasul pakai untuk berceramah di Masjid Nabawi dahulu kala. Semua yang umrah pasti diajak ke Raudhah. Raudhah memiliki keutamaan yang bisa dibaca disini ya.

“Raudhah Hanya Diperbolehkan Pada Waktu Tertentu Untuk Perempuan”

Untuk masuk ke dalam Raudhah tidak mudah, tapi tidak sesulit benteng takeshi kok, beneran deh. Jadi awalnya kita akan diminta melepas sandal, lalu berjalan ke dalam area masjid. Disebabkan area Raudhah hanya dibuka pada waktu tertentu untuk perempuan, jelas perempuan yang ingin mengunjungi Raudhah membludak. BOOM! Bohong deng, nggak kayak bom kok #apasih.

Petualangan Menuju Raudhah

  • Antrian Pertama

Setelah dekat area Raudhah, saya dan segenap rombongan diminta mengantri sambil duduk. Kami terkantuk-kantuk ria seraya tilawah.

  • Antrian Kedua

Kalau tidak salah, saya menunggu sekitar 30 menit untuk kemudia mengantri lagi dengan area mengantri yang lebih dekat Raudhah. Pada antrian dengan lokasi berbeda ini, terjadi sedikit kegalauan, kadang diminta duduk, kadang diminta berdiri agar antriannya lebih maju ke depan. Nah disini semakin mendekati Raudhah, semakin penuh orang, satu perempuan dengan perempuan lain sudah saling berdempet.

  • Saat dibuka Giliran Masuk Area Raudhah

Katanya Ustadzah yang menemani jamaah perempuan ke Raudhah, sebenarnya antrian memasuki Raudhah dibagi berdasarkan negara-negara. Biasanya yang dari Malaysia dan Indonesia bersama. Lalu yang dari Arab, Turki, India juga ada gilirannya. Tujuannya ya biar kita-kita orang Indonesia yang ‘kecil-kecil’ ini tidak ‘tergilas’ perempuan Arab (atau setidaknya berwajah Arab) yang biasanya tinggi dan besar. (Duh maaf kalau rasis, saya bingung bagaimana membahasakannya) Kenyataannya, tidak ada yang mau mengalah, huft apa daya akika.

Setelah pintu masuk ke area Raudhah, ya dari pintu masuk sekitar 5-10 m kemudian akan sampai Raudhah, perempuan-perempuan yang mengantri langsung berubah jadi mode jadi fast and furious. Wah langsung saling berdesakan. Saya yang melangkah kecil dan pelan, menjadi terdorong di depan. Tante saya melihat ke arah saya dan mencoba menggenggam tangan saya agar saya tidak terlepas dari rombongan. Ibu Irna (salah satu jamaah dari Gardi Tour juga) melihat ke arah belakang, khawatir anaknya diselak orang dan terdorong ke belakang. Crowded, hectic, panic. Rasanya seperti rush hour. Apalagi saya yang agaknya mengidap claustrophobia, ya semacam phobia tempat sempit . Jantung saya berdetak lebih kencang, kaget dengan keadaan yang menurut saya bar-bar. Terlebih saat saat maju ke depan, saya melihat seorang Ibu-Ibu berwajah Arab (jadi belum tentu berasal dari Arab Saudi) menggandeng tangan perempuan disampingnya dengan rapat dan erat, dan tangan satunya mendorong perempuan di depannya dengan semangat (baca:bar-bar). Ya Allah, ibadah macam apa ini? Tidak bisakah mereka lebih manusiawi, kalau ada yang jatuh bagaimana? Tapi ya sepertinya kejadian macam itu sudah menjadi hal umum.

Area Raudhah ditandai dengan karpet hijau, sungguh waktu yang mustajab untuk berdoa disertai shalat sunah. Saya masih berdiri diam, sudah terlepas dari rombongan, dengan kanan dan kiri berdesakan orang. Seorang anak perempuan shalat di depan saya, Ibu si anak ada disampingnya menjaga anak perempuannya agar shalatnya tidak terhalang orang yang berdesakan. Saat si anak perempuan sujud pun, sudah meringkuk dikarenakan area shalat satu orang sungguh terbatas. Saya masih diam di tempat, bingung akan desak-desakan dan kebrutalan dalam beribadah ini. Sungguh saya deg-deg-an terjepit diantara perempuan-perempuan berbadan besar. Mencoba bertahan agar tidak jatuh, tidak limpung ke arah kanan ataupun kiri. Belum saya merapalkan doa, mata saya melihat tanda exit dan arah keluar Raudhah. Fine, ibadah macam apa ini? Saya lebih baik keluar dari Raudhah. Lalu saya keluar sendiri dan menunggu jamaah perempuan Gardi Tour selesai berdoa.

 

Ya, sekiranya segitu dulu kelanjutan jurnal umrah saya. Mohon maaf bila ada kata-ata yang tidak berkenan untuk dibaca, sesungguhnya saya tidak berniat buruk apapun. Petulangan saya di Madinah dan Makkah beserta hikmah-hikmah yang saya dapat akan saya ceritakan lagi nanti ya 🙂

 

Jurnal Umrah (1): Salah Kaprah Air Zamzam

Alhamdulillah atas rezeki yang diberikan Allah Swt kepada Mama dan kebaikan hati Mama untuk membayari anaknya umrah, maka jadilah saya tamu Allah. Berhubung sebelum umrah saya sendiri penasaran apa saja kegiatan saat umrah, maka berikut adalah catatan perjalanan saya saat umrah Februari 2016.

Berikut adalah hal-hal yang diberikan Gardi Tour kepada jamaah Umrah sebelum keberangkatan:

  • Koper
  • Kain batik untuk dijahit, agar ada pakaian seragam.
  • Bergo (kerudung instan) berwarna putih
  • Buku panduan doa-doa
  • Tas kecil
  • Sesi informasi manasik umrah, beserta penyerahan koper. Sehingga saat ke bandara di hari H tidak perlu membawa koper lagi.

Rabu, 17 Februari 2016

Semua jamaah umrah diminta berkumpul di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sejak pukul 13.00, ternyata penjelasan singkat dari Gardi Tour baru dimulai sekitar pukul 15.30 seingat saya. Jadilah saya habiskan waktu selain untuk shalat, untuk makan juga. Lalu pukul 17.45 (waktu Indonesia bagian barat) saya berangkat menuju bandara transit yaitu Bandara Internasional Abu Dhabi dengan maskapai Etihad Airways.

Berikut adalah hal-hal yang diberikan Gardi Tour kepada jamaah Umrah saat berkumpul di bandara:

  • Nametag yang bisa dikalungkan dan satu lagi untuk dipasangkan ke tas yang dibawa ke kabin pesawat
  • Paspor dengan tiket pesawat
  • Satu paket paspor dan visa yang sudah di fotokopi
  • Makan siang
IMG_20160217_154711_AO_HDR.jpg

Foto bersama sebelum menuju check-in counter.

Catatan: lokasi mushalla di terminal 2 keberangkatan (departure) berlokasi di ujung paling kanan dan ujung paling kiri ya.

Kamis, 18 Februari 2016

Setelah transit di Bandara Internasional Abu Dhabi selama kurang lebih 2 jam yang dihabiskan untuk shalat, ke toilet, duduk-duduk selama 30 menit, akhirnya pesawat tujuan Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz datang. The best part is, Al-bandara tersebut adalah bandar udara di Madinah. Biasanya jamaah umrah terkadang turun di Jeddah yang akan membutuhkan waktu sekitar 6 jam lagi untuk sampai Madinah.

  • CGK (Jakarta) >>> AUH (Abu Dhabi) : 8 jam 35 menit
  • Transit : 2 jam
  • AUH (Abu Dhabi) >>> MED (Madinah) : 1 jam
  • Total waktu yang dihabiskan adalah 11 jam 35 menit

Nah, jadi kalau pesawat saat berangkat landing di Jeddah, ya akan lebih lama lagi waktunya.

Tips 1: Kalau Bisa Saat Berangkat Umrah Tiba di Bandara di Madinah

Ternyata selain karena lebih cepat untuk sampai Madinah, ada satu hal yang membuat ketibaan di bandara di Madinah lebih menyenangkan. Untuk jamaah umrah, antrian imigrasi di bandara di Madinah tidak lama sedangkan di bandara di Jeddah cukup lama. Apalagi jika melakukan haji, coba saja googling dengan keyword ‘imigrasi bandara jeddah.’

Jadi suatu hari saat berangkat magang saya bertemu teman lama Ibu saya, sebut saja Tante Mawar. Saya dan Tante Mawar membicarakan mengenai umrah. Tante Mawar pun menceritakan betapa lama ia mengantri di bandara saat di Jeddah. Bahkan Tante Mawar memperlihatkan foto yang ia ambil saat mengantri untuk proses imigrasi yang isinya orang-orang bagai pepes, ia mengantri selama 3 jam. Bayangkan betapa bersyukurnya saya bisa tiba di bandara yang berlokasi di Madinah.

IMG_20160218_045841_AO_HDR.jpg

Foto bersama setelah sampai bandara di Madinah.

Sampai di Madinah sudah dekat waktu pelaksanaan shalat subuh. Memang diberikan waktu untuk masuk kamar sebentar, namun benar-benar singkat waktunya. Sehingga tidak lama saya dan jamaah umrah lainnya bergegas ke Masjid Nabawi dengan berjalan kaki.

Tips 2: Hati-Hati Salah Kaprah Lokasi Air Zam-Zam saat di Masjid Nabawi

WARNING!

Pada saat sampai Masjid Nabawi, pasti kamu akan mencari air zamzam. Mohon diingat bahwa air zamzam hanya ada di wadah-wadah tertentu di dalam masjid nabawi. Kalau di pelataran luar masjid kamu melihat ada keran-keran air minum disediakan, itu bukan air zamzam ya. Itu hanya air minum biasa, namun banyak orang salah kaprah, termasuk saya.

zam zam (1)

Wadah-Wadah air zamzam di dalam Masjid Nabawi. Sumber foto: dari sini.

Selain wadah seperti di atas atau keran khusus dengan tanda air zamzam, maka dipastikan air tersebut bukanlah air zamzam ya.

 

Ma…Ma…Ma…Mazhab! – Ini nih yang perlu diketahui tentang mazhab :)

Tadi siang sekitar waktu setelah adzan dzuhur, aku mengalami kegalauan antara mau antara mau membaca Al-Quran dulu atau mendengar ceramah dulu. Soalnya yang membawakan ceramah adalah Bapak Muhammad Ajib, sebenarnya tidak kenal juga sih dengan Bapaknya haha. Tapi……dia itu dari Rumah Fiqih Indonesia yang situsnya sering aku buka dan aku baca-baca gitu deh. Apa daya hidup penuh pilihan, walaupun aku belum membaca Al-Quran sejak pagi akhirnya aku memilih untuk mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Kira-kira di bawah ini adalah apa yang beliau sampaikan.

Mengapa Kita Perlu Ber-Mazhab?

Hem, pertanyaan awal adalah apa itu Mahzab? Maniskah? Atau pahit? Sejenis apa ya itu hehe. Duh aku juga tidak begitu mengerti sih. Yaudah aku googling ya. Berbekal rasa ingin tahu dan kemampuan merangkum, jadi ini dia mengenai mazhab.

Pengertian Mazhab dari situs Rumah Fiqih Indonesia.

Secara bahasa: tempat untuk pergi.

Secara istilah: metodologi ilmiah dalam mengambil kesimpulan hukum dari kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Nabawiyah.

Oke oke, jadi sudah jelas ya kalau kita mendengar Mazhab Syafi’i berarti kita akan mengetahui beberapa hal mengenai Islam berdasarkan proses ilmiah pencapaian kesimpulan yang dilakukan Imam Syafi’i. Gitu ya, mengerti tidak? Huhu maafkan ya kalau definisi pribadiku membuatmu mengalami distorsi pemikiran.

Pasti pernah dong mendengar ulama 4 mazhab? Pernah dong ya? Siapa saja coba Ulamanya? Hehe maafkan ya aku iseng. Tapi tetap ya aku tidak mau kasih tau siapa saja ulamanya 😛 Nah, mazhab yang akan aku bicarakan disini maksudnya mazhab fiqih. Waw waw waw, biar lebih crystal clear aku jelaskan ya fiqih itu apa. Tidak lucu dong ya kalau membicarakan sesuatu dan memberikan perspektif kita akan hal tersebut tapi kita sendiri justru tidak mengerti sesuatu itu apa. Iya tidak? Oke, aku akan kembali googling.

Pengertian Fiqih dari beberapa sumber.

Secara bahasa: paham.

Secara istilah: pengetahuan tentang hukum syari’at (hukum yang bersumber dari Allah Swt melalui kitab-Nya dan lisan Nabi-Nya saw) dan hal-hal yang terkandung dalam hukum tersebut.

Adapun definisi yang dikenal para ulama yaitu:

“Ilmu yang membahas hukum-hukum syariat bidang amaliyah (perbuatan nyata) yang diambil (istimbath) dari dalil-dalil secara rinci.”

Fix, clean and clear ya kalau fiqih itu adalah ilmu mengenai hukum-hukum syari’at dalam hal jasadiyah dan badaniyah alias perbuatan yang kita lakukan. Jadi fiqih tidak mengurus hal-hal terkait ruh, perasaan, atau aspek kejiwaan lainnya.

Perlu diingat ya kalau ilmu fiqih ini diterjemahkan dengan metode yang disepakati para ulama dan terangkum dalam sebuah ilmu yang dinamakan ‘ushul-Fiqh’. Ini ya kalau copy-paste dari situs Rumah Fiqih Indonesia,

Kalau hanya dengan satu dua ayat dan hadits, kemudian menentukan hukum, itu bukan ahli fiqih namanya, karena memang fiqih tidak sesimpel itu. Kalau hanya begitu, anak-anak yang baru bisa terjemah Arab pun bisa.”

Mungkin kalau bisa aku simpulkan saat ada orang yang mengatakan “Kalau aku ikut mazhab Maliki” itu berarti orang tersebut melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai koridor Islam menurut hasil penerjemahan atau tafsiran Imam Malik. Wahh, Alhamdulillah ya sekarang kita sudah tahu nih apa yang mau aku bicarakan ehhh tuliskan selanjutnya maksudku hihi.

Jawaban: Karena kita masih awam.

Hem coba ya aku cek, kamu bisa mengerti Al-Quran tanpa baca terjemahannya? Kalau aku sih tidak.

Kamu fasih berbahasa arab baik lisan atau tulisan? Kalau aku sih belum.

Faktanya hukum-hukum syari’at yang bersumber dari Allah Swt yang seharusnya kita laksanakan, dituangkan Rabb kita dalam suatu kitab bernama Al-Quran. Kitab tersebut tertulis dalam bahasa Arab. Oke, ada terjemahannya kok, selesai kan? Sayangnya, setiap hal saja bisa diartikan berbeda oleh beberapa orang. Apalagi Al-Quran yang isinya kata-kata? Kita saja bisa menafsirkan yang berbeda padahal membaca suatu artikel yang sama, iya tidak? Terus ya, Nabi kita tersayang Nabi Muhammad saw telah tiada dan tidak ada yang bisa menjelaskan secara lisan mengenai apa sih yang tertuang dalam Al-Quran.

Maka, kita perlu mengikuti mazhab tertentu, apapun mazhabnya boleh saja. Imam-Imam terdahulu yang dirahmati Allah telah berusaha sedemikian rupa tidak hanya memahami bahasa Arab, namun mengetahui ribuan hadits, tentu ulama-ulama tersebut tidak sembarangan dalam menafsirkan hukum-hukum syari’at. Ulama-Ulama para mazhab itu ya kalau memutuskan suatu hukum harus paham dulu, harus faqih istilahnya. Ingat, para Ulama itu tidak meneliti sesuatu dari satu dua ayat atau hadits, tapi ratusan bahkan ribuan.

Kalau berdasarkan artikel di situs Rumah Fiqih Indonesia sih begini,

Jadi, bukan ‘kembali ke Al-Quran dan Sunnah” slogan yang harus dikampanyekan, tapi ‘kembali ke Ulama’ yang harus digalakkan. Karena kita tidak akan mungkin memahami Al-Quran dan Sunnah hanya mengandalkan otak kita dan diri ini yang penuh hawa nafsu serta kepentingan tanpa melihat bagaimana cara ulama memahaminya.”

Setuju sekali deh aku dengan pernyataan di atas. Hem bagaimana ya, bisa jadi sih pandangan awal kita akan hukum atau sesuatu terkait syari’at yang kita terjemahkan sendiri itu benar, tapi sampai kapan sih kita benar terus? Siapa kita coba? Hohoho.

Bagaimana Jika Meyakini Lebih dari Satu Mazhab?

 Nah, tepat saat kata Ustadznya ceramahnya selesai, dibukalah sesi tanya jawab. Tadinya mau mulai membaca Al-Quran, eh tapi pertanyaan dari si Mas-Mas kok ya bagus. Ada Mas-Mas entah siapa yang tidak perlu kita sebut dia mawar, bertanya bagaimana jika kita memakai mazhab yang berbeda-beda dalam setiap hal yang kita lakukan. Nah loh, bagaimana ya? Boleh tidak ya? Bolehlah ya, Allah kan Maha Baik. Hahaha jawaban tidak bermutu itu, tidak boleh dicontoh ya.

Jawaban: Boleh saja, disebut Talfiq itu.

Hem, kira-kira itulah yang dikatakan Ustadz penceramah bahwa mengikuti lebih dari satu mazhab diperbolehkan. Kalau kita menganut lebih dari satu mazhab disebut talfiq. Nah tapi, ada satu hal yang perlu diingat, kita boleh mengikuti lebih dari satu mazhab tapi tidak asal mencampuradukkan semuanya. Pakai satu mazhab untuk satu paket perbuatan. Mengerti tidak? Yaudah aku buat do’s and dont’s ya.

Do’s : Saat wudhu dalam menilai hukum batal wudhu atau apa saja yang wajib dibasuh mengikuti hukum mazhab Maliki.

Dont’s : Saat wudhu dalam menilai apa saja yang perlu dibasuh mengikuti mazhab Maliki dan mengenai hukum batal wudhu mengikuti mazhab Syafi’i.

Coba aku tes ya!

Sebutlah seseorang bernama Barbie, antara satu dan lain hal ia memutuskan mengikuti mazhab Syafi’i yang salah satunya adalah melakukan wudhu dengan berurutan. Nah karena Barbie itu pakai kerudung, dia malas tuh kalau harus buka kerudung saat wudhu. Barbie mengusap kepala dengan air hanya dengan dengan mengusapkan air pada beberapa helai rambut yang ada di atas kepala, hal itu sesuai mazhab Syafi’i. Waduh, saat selesai wudhu Barbie tidak sengaja melewati area sempit ke arah tempat shalat dan bersentuhan tangan dengan Ken, rekan kerjanya. Lantas Barbie menganggap itu tidak apa-apa, kan menurut mazhab Hanafi selama yang bersentuhan bukan kemaluan ya wudhunya tidak batal. Apakah yang dilakukan Barbie sudah benar?

TIDAK. Ya, jawabannya tidak. Kita memang boleh memakai lebih dari satu mazhab tapi tidak mencampuradukkannya ya dalam satu perbuatan.

Kira-kira itu saja yang bisa aku sampaikan Duhhh sebenarnya aku gemesh mau membahas hal-hal lain seperti,

  • Mengapa mengetahui fiqih itu penting? (hayo kenapa hayo?)
  • Mengapa setiap Mazhab bisa berbeda padahal sumbernya sama-sama Al-Quran dan Sunnah?

Penasaran kan? Tapi aku sudah lelah mengetik ini hehe. Ini saja aku mulai mengetik dari sekitar pukul 13.30 dan sekarang sudah pukul 15.45. Yah maklum aja kan disertai googling hehe.

Kalau Aku Sendiri……………

Jujur saja sampai saat tulisan ini di buat aku belum tau memutuskan ingin mengikuti mazhab yang mana. Mungkin aku akan fleksibel, tapi entahlah haha. Iya aku tidak tahu mau bagaimana. Sepertinya aku akan mulai membaca beberapa artikel tentang salah satu mazhab deh walaupun belum tentu mengikutinya. Hem malu sih ya, sudah menulis hal tentang mazhab seperti tulisan ini tapi perkembangan diri sendiri kok ya rasanya lambat gitu ya huhuhuhuft. Tapi gapapa, semua dimulai dari baby steps kok. Kita sekarang bisa berjalan saja dulu dimulai dari langkah-langkah kecil kita saat bayi. In sha Allah aku akan menjadi muslim yang lebih baik dan kamu juga, aamiin.

Sampai jumpa di postingan aku selanjutnya.

Semoga bermanfaat.

Mohon maaf jika ada informasi yang salah. Moho koreksinya ya J

Sumber

Anonim. 2008. Fiqih Islam. (http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-islam.html diakses pada 30 Juli 2015)

Bagir, Muhammad. 2008. Fiqih Praktis I. (https://books.google.co.id/books?id=3hsXDH230h8C&pg=PA72&lpg=PA72&dq=rukun+wudhu+menurut+mazhab+syafi%27i&source=bl&ots=RZafYAZnXz&sig=8MzRgRydiHTFbRQswGD3AqqEWWI&hl=en&sa=X&ved=0CEYQ6AEwCTgKahUKEwjY7JXTuILHAhWScI4KHTekCX0#v=onepage&q=rukun%20wudhu%20menurut%20mazhab%20syafi’i&f=false diakses pada 30 Juli 2015)

Hapsari, Endah. 2013. Bersentuhan dengan Lawan Jenis Batalkan Wudhu?. (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/01/22/mh0rnw-bersentuhan-dengan-lawan-jenis-batalkan-wudhu)

Sarwat, Ahmad. 2014. Mazhab dalam Islam. (http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1135215326&=mazhab-dalam-islam.htm diakses pada 30 Juli 2015)

Simanjuntak, Zuria Ulfi. 2014. Hal-Hal yang Membatalkan Wudhu. (http://www.rumahfiqih.com/khazanah/x.php?id=4 diakses pada 30 Juli 2015)

Zarkasih, Ahmad. 2013. Ilmu Fiqih Bukan Ilmu Sembarang. (http://www.rumahfiqih.com/fikrah/x.php?id=137&=ilmu-fiqih-bukan-ilmu-sembarang diakses pada 30 Juli 2015)

Sumber Gambar 1, Gambar 2, Gambar 3

Kenapa Kita Bershalawat pada Nabi Muhammad Saw?

Tau kalimat “Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad”? Pernah tidak mengucapkan kalimat itu seusai shalat? Nah itu bacaan shalawat. Ada juga kok bacaan shalawat yang lebih panjang, googling aja hehe.

Tapi, kenapa ya kita perlu bershalawat? Simpelnya sih ya karena itu dianjurkan Allah, jadi kita sebagai hamba-Nya ya nurut aja gitu. Secara di Surat Al-Ahzab ayat 56 dikatakan bahwa “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Hem, coba kita telusuri yuk. Shalawat sendiri definisinya apa sih? Menurut pustaka.abatasa.co.id, Shalawat merupakan bentuk jamak dari kata salla/ shalat yang berarti doa, keberkahan, kemuliaan, dan ibadah. Waduh, biasanya yang berpikir kritia pasti langsung muncul asumsi begini: – Lah katanya Allah Swt bershalawat pada Nabi, berarti Allah berdoa pada ciptaanNya sendiri dong? – Ih katanya Nabi Muhammad Saw itu orang yang terjaga dari segala dosa dan dijamin masuk surga, ngapain coba di doakan? Nggak terjamin masuk surga dong? – Duh dibanding mendoakan Nabi, mensing mendoakan diri sendiri yang berlumuran dosa deh, iya nggak? Hihihi, kalau pernah merasakan asumsi di atas, wajar kok. Kita kan manusia, punya kemampuan berpikir dan menganalisa.

Mari berpikir lebih dalam. Coba deh, artinya bacaan shalawat ada yang tau nggak? Atau selama ini kita asal baca aja yang penting Allah suka? Ya gapapa, asik aja kok, seru kok hehe. Jadi arti bacaan shalawat yang lengkap itu gini : “Ya Allah, wahai Tuhanku muliakanlah oleh-Mu akan Muhammad.” Itu arti pendeknya. Kalau bacaan shalawat kamu makin panjang, artinya pun akan bertambah.

Biar lebih jelas, yuk berpikir lebih filosofis. Kan tadi katanya shalawat itu bentuk jamak dari shalat, nah shalat itu apa coba? Kalau kita telusuri bacaan shalat, intinya memuji Allah Swt dan berdoa kepadanya kan? Iya nggak? Coba aja berapa kali kita menyebut Allahu Akbar yang berarti Allah Maha Besar dalam shalat? Serta kalimat kalimat pujian lainnya. Nah berarti, shalawat itu juga bisa diartikan pujian.

Oke, sekarang aku jelaskan kenapa perlu bershalawat.

– Coba bayangkan kamu punya pacar nih ya. Terus teman kamu atau junior kamu atau siapapun memuji pacar kamu “Ih pacar kamu pintar sekali ya” atau kalimat pujian lainnya. Senang nggak kamu? Senang kan? Nah nah, kalau Nabi Muhammad Saw ialah kekasih Allah, apa iya Allah nggak senang kalau kita sebagai umatnya memuji-muji kekasih-Nya?

– Kalau soal Allah bershalawat pada Nabi, jelas ya artinya bukan Allah berdoa pada Nabi melainkan Allah memuji, Allah memberikan rahmat. Coba aja bayangkan pelukis yang sudah selesai membuat lukisan, wajar nggak kalau dia bergumam sendiri “Ah bagusnya lukisanku.” Wajar nggak?

– Kerennya nih, berahalawat itu buy 1 get 10 free. Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, akan dihapuskan darinya sepuluh kesalahan dan dia akan diangkat sepuluh derajat. (HR. Al-Nasa’i) Tuh ya abia bershalawat kepada Nabi, Allah langsung memuji kita sepuluh kali lipat. Ihhhh senang tidak dipuji oleh Sang Penguasa alam semesta?

Nah bagaimana penjelasan tadi? Sudah semakin mantap untuk bershalawat? Semoga sudah ya hehe. Jadi untuk menyederhanakan, shalawat perlu diucapakan sebagai ucapan terima kasih pada Nabi, sebagai bentuk kepatuhan kita pada Allah, serta sebagai hal yang menguntungkan diri kita sendiri.

Wawlahu alam bishawwab. Hal yang benar tentu dari Allah dan yang salah dari khilaf aku.

🙂 Happy Ramadhan.

Sumber : Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3, Sumber 4, Sumber 5, Sumber 6, Sumber 7

Ghosab: pinjam-sebentar-tak-usah-izin

Kamu tau Ghosab?

Tadinya, aku juga tidak kenal. Tapi sekarang aku sudah kenal.

Pernahkah kamu ingat suatu momen dimana kamu sedang berada di mushalla/ masjid dan saat kamu ingin keluar sebentar, kamu menemukan sandal kamu tidak ada di tempat kamu meletakkan sebelumnya. Ternyata tidak lama seorang temanmu datang dan berkata “Duh maaf ya, tadi gue pinjem sebentar sendal lo. Gue butuh beli minum, tapi sepatu gue ribet.” Lalu kamu hanya mengiyakan.

Pernah mengalami kejadian serupa? Katanya sih itu Ghosab.

Tolong untuk tidak menarik kesimpulan bahwa Ghosab adalah perbuatan memakai sandal teman tanpa izin ya, haha, Ghosab bukan itu.

Definisi Ghosab

Dalam suatu literatur, Ghosab merupakan  “Mengambil hak orang lain dan menguasainya secara paksa.” (Fiqh Sunah, 3/248). Ada juga pengertian lain yaitu menguasai harta orang lain secara paksa dan tidak ada keinginan untuk mengembalikannya.

Hukum Ghosab

Berdasarkan An-Nisa ayat 29 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil…” serta Al-Baqarah ayat 188 yang artinya “Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan jalan yang batil…” Maka jelas bahwa Ghosab hukumnya haram alias sangat tidak diperbolehkan.

Pemahaman Mengenai Ghosab

– Pemahaman versi 1

Sesuai cerita tentang ‘meminjam’ sandal yang aku sebutkan diawal, berkembang pemahaman bahwa meminjam barang orang lain tanpa izin disebut Ghosab. Salah satu sumber yang aku baca menyebutkan bahwa pemahaman tersebut tidak sepenuhnya benar. Dalam Ghosab, orang yang mengambil barang punya tujuan untuk menguasai barang itu secara utuh tanpa ada keinginan untuk mengembalikannya. Sedangkan dalam cerita ‘pinjam’ sandal, si peminjam hanya ingin meminjam sementara. Untuk kasus semacam itu, hukumnya kembali kepada standar yang berlaku di masyarakat.

Suatu sumber menyebutkan “Sesuatu yang menjadi Urf di masyarakat, dapat dijadikan salah satu sumber hukum/ acuan selama tidak bertentangan dengan hukum Islam.”

Duh, maaf ya jadi ada istilah baru deh yaitu Urf. Mau tidak aku kasih tau tentang si Urf ini? Demi kebaikan, aku kasih tau secara singkat aja ya 🙂

Urf > Kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat tertentu. Kalau kamu mau tau mengenal Urf lebih jauh, kusarankan kamu baca ini ya.

Kalau kamu menganggap cerita ‘meminjam’ sandal di atas sudah jadi kebiasaan mayoritas masyarakat kita, masyarakat Indonesia, tidak heran jika kamu menganggap kalau perbuatan sejenis kasus ‘meminjam’ sandal bukanlah Ghosab. Maka, pertanyaan besar yang harus kita jawab adalah apakah benar mayoritas masyarakat kita melihat perilaku meminjam tanpa izin walaupun akhirnya dikembalikan adalah hal yang lumrah? Lalu perhatikan juga standar Urf sampai bisa berlaku. Aku tidak sanggup membaca dan mencari literatur lain, sehingga aku sendiri belum bisa membuktikan kasus ‘meminjam’ sandal itu Ghosab atau bukan.

– Pemahaman versi 2

Aku yakin kadang aku, kamu, bahkan teman-teman kita yang lain suka meminjam pulpen teman yang duduk di kursi sebelah untuk sekedar mengisi buku absen. Padahal belum izin, kan kita hanya perlu membubuhkan ceklis jadi waktu memakai pulpennya tidak sampai 1 menit. Teman di kursi sebelah yang pulpennya kita ambil juga pasti mengerti, iya tidak? Hal kecil tidak usah dibesar-besarkanlah, setuju? Atau sedelapan? hehehe.

Jadi tolong ya buang pikiran kuno kalau meminjam tanpa izin adalah Ghosab, secara kita si peminjam kan ada niat mengembalikan barang yang dipakai. Coba, aku kasih tambahan ‘bumbu’ cerita ya. Bagaimana jika pulpen teman kita yang kita pinjam itu mereknya Mont Blanc edisi terbatas, koleksi pribadi teman kita, teman kita menggunakan pulpen itu karena saat itu ya hanya pulpen Mont Blanc itu yang dia bawa. Bisa jadi, sebenarnya dia tidak rela pulpen Mont Blanc nya itu dipakai kita loh, waduh bahaya tidak tuh? Apa iya kita kadang memperhatikan dulu pulpen teman yang kita pinjam mereknya apa? Duh, jadi kompleks ya ceritanya, bentar lagi aku menulis skrip drama deh hehe.

Sesuai pemahaman versi 1, Ghosab ya tidak apa-apa selama hal tersebut menjadi kebiasaan pada mayoritas masyarakat. Namun ingat, aku meninggalkan pertanyaan mengenai apakah benar perilaku pinjam-sebentar-tak-usah-izin adalah yang menjadi kebiasaan mayoritas masyarakat. Tentu jika benar bahwa pemilik barang yang kita pinjam-sebentar-tak-usah-izin sepenuhnya RELA barangnya dipinjam, maka jelas kita sebagai peminjam TIDAK DOSA. Tapi bagaimana kita tahu bahwa si pemilik barang benar-benar rela? Okelah kalau si pemilik barang berkata “Iya nggak apa-apa” setelah kita minta izin pinjam setelah memakai barangnya, tetapi siapa yang tahu kalau dia benar-benar rela dan hatinya tulus. Bukannya bermaksud berburuk sangka, peribahasa saja mengatakan bahwa dalam laut bisa diduga, dalam hati siapa tahu. Tuh, bagaimana dong ya?

Jadi pemahaman versi 2 ini lebih mengarahkan untuk sebaiknya meminta izin terlebih dahulu hingga pemilik barang mengizinkan sebelum memakai barang yang kita minta izinnya. Siapa tahu kan niat kamu pinjam sandal teman karena kamu pakai sepatu bertali yang bikin ribet, sandal teman kamu mereknya Fitflop yang harganya Rp 500.000, kamu tidak minta izin dan mengamalkan pinjam-sebentar-tak-usah-izin, ternyata saat dipakai tidak sengaja kamu merusak sandalnya. Duh, apa kabar tuh sandal? Ganti uang Rp 500.000 gitu? Teman kamu yang punya sandal mahal bakalan marah dan kesal tidak ya?

Aku bukan menyarankan kamu untuk hapal merek barang mahal agar lebih hati-hati meminjam loh ya. Hahaha. Mulai sekarang, aku dan kamu yang baca tulisanku perlu membiasakan izin dulu sebelum meminjam ya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan hehe.

Wallahu a’lam bishshawab

Jadi, mana pemahaman yang akan kamu yakini? Versi 1 atau Versi 2? Haha

🙂

Sumber tulisan

– http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1391071809&=tentang-urf-dan-tradisi.htm

– http://mahad.uin-suska.ac.id/berita.php?id=232

– http://www.smp-alazhar14.com/v2/html/index.php?id=artikel&kode=3

Sumber gambar: ini dan itu.

Kerudungmu dineci atau dijahit tepi? Memang beda?

Sebagai muslimah, aktivitas membeli kerudung adalah hal yang paling familiar. Dari kerudung segi empat hingga pashmina, dari yang berwarna polos sampai bermotif. Nah pasti tahu kan kalau pinggiran kerudung kadang berbeda-beda jahitannya. Biasanya kalau tidak dineci yang dijahit tepi, terus ada gitu bedanya dineci dan dijahit tepi? Nah maka akan aku jelaskan menurut yang aku tahu ya 🙂

1. Jika Kerudungmu Segi Empat

Jilbab Segi 4

Kalau dijahit tepi, tepian (bagian pinggir) kerudungmu biasanya lebih rapi dan tidak mudah rusak. Kalau dineci, tergantung kualitas neci nya, kalau bagus ya maka tepian kerudungmu juga lebih awet.

Hijab Segi4 dipakai

Tidak masalah menurutku baik kerudung segi empat yang dijahit tepi atau dineci, karena biasanya sebelum dipakai, kerudung segi empat akan dilipat menjadi segitiga terlebih dahulu. Sehingga bagian yang membentu wajah adalah bagian yang terlipat, sehingga baik memakai ciput atau langsung dipakai akan tetap rapi.

2. Jika Kerudungmu Pashmina

Pashmina jahit tepi

Ini adalah tepian pashmina yang dijahit tepi, jelas tidak? Jadi tepian pashmina diambil sedikit, dilipat, kemudian dijahit.

pashmina dineci

Sedangkan pashmina yang dineci, tepiannya dirapihkan tidak dengan dijahit, biasanya dengan mesin. Baik mesin neci atau mesin obras yang dimodifikasi.

Pashmina dipakai

Saat memakai pashmina, biasanya kita tidak melipatnya terlebih dahulu. Iya tidak? Kalau aku sih begitu. Sehingga sisi pashmina yang akan menempel di wajah kita ya sisi tepiannya. Maka pada pashmina, bentuk tepian akan mempengaruhi bagaimana ‘jatuhnya’ pashmina di wajah kita.

memakai pashmina dijahit tepi copy

Ini saat aku memakai pashmina yang dijahit tapi, pashmina yang dijahit tepi membentuk wajahku dengan rapi. Lihat saja sisi pashmina yang terbentuk di atas dahiku.

memakai pashmina dineci

Sedangkan ini saat aku memakai pashmina yang dineci, berbeda bukan? Coba lihat sisi pashmina yang terbentuk di atas dahiku. Lebih rapi mana dibanding pashmina yang dijahit tepi? Lebih bagus yang dijahit tepi bukan? Nah makanya kalau kamu membeli pashmina lebih baik beli yang pinggirannya dijahit tepi agar lebih bagus membentuk wajah. Hem, kamu masih tidak yakin akan penjelasanku? Nah coba kamu ambil pashminamu yang satu dijahit tepi dan yang satu lagi dineci, coba deh pakai di depan cermin. Hihi

FACT!

Biasanya kerudung yang dijahit tepi lebih tinggi harganya dibanding yang dineci. Kerudung yang dijahit tepi biasanya dilakukan secara manual alias handmade, sedangkan kerudung yang dineci biasanya menggunakan mesin. Nah jelaskan kerudung yang dijahit tepi lebih perlu ketelatenan penjahitnya? Kalau tidak telaten jahit tepi yang dihasilkan tidak lurus alias keriting, ya pokoknya tidak rapi. Hehe.

Nah sekarang kamu tahu kan bedanya kerudung dijahit tepi dan dineci? Kalau penjabaranku kurang jelas, buka saja ini.

Selamat memilih kerudung 🙂

Homo/gay normal. Masa sih?

eibidifaiq

Bismillah.

“Wah lu homo ya? Ko gapernah pacaran? Waaaah….” begitulah percakapan singgih dan abin, karena singgih gapernah pacaran selama hidupnya wakakakaka. Peace ya abin singgih kalo lagi baca blog, ini bukan di niatkan untuk pencemaran nama baik. Gue juga belom pernah pacaran ko seumur hidup, ya paling harkos doang. Eeeeeh wkwkw. Serem ga sih judulnya? Gue bilang serem. Tapi pada tau gak kalo ada yang menghalalkan/membenarkan masalah LGBT ini. Ada loh ternyata. Wih.

Oke jadi kan gue jatuh cinta banget sama science. Gue coba selalu liat masalah apapun dari kaca mata science. Entah itu dari fisika, biologi, kimia, sosiologi apapun lah. Ternyata ada nih sumber yang biasa gue baca. Beliau guru biologi di zenius. Penjelasannya sumpah keren banget. Yang membahas masalah ini.  Tapi wajib di baca ya soalnya menarik banget asli. Dan kalo bisa balik lagi ke blog ini hehehe oke? http://rofalina.com/2013/11/gender-orientasi-jenis-kelamin-perbedaan.html

Gimana? mengerikan, ribet atau keren? Emang sih ga semua…

View original post 281 more words