Rahasia Sukses Tya Subiakto Bisa Turun Berat Badannya Sebanyak 40 Kg dalam 18 Bulan. Mau Tahu Bagaimana?

Salah satu yang menjadi inspirasi saya menulis, biasanya pengalaman saya atau pengetahuan saya akan hal-hal baru. Kadang sambil memikirkan ingin menulis apa, saya juga window shopping pada beberapa online store. Selain melihat dress muslimah, saya juga suka melihat dompet wanita original, ya menyenangkan saja. Tapi sayangnya setelah beberapa saat, saat tidak juga mau menulis. Yasudah akhirnya pada tulisan ini saya posting kembali sebuah artikel yang pernah saya buat saja ya hehe.

Tulisan ini terinspirasi dari perkataan sahabat saya setelah menonton reality show kecantikan dari negeri ginseng, begini katanya “Tidak ada perempuan yang tidak cantik, tapi ada banyak perempuan yang malas.”

Tahu film Hafalan Shalat Delisa? Hem, atau film Obama Anak Menteng? Mungkin banyak yang tidak sadar, Tya Subiakto adalah salah seorang dibalik pembuatan dua film tersebut, tepatnya sebagai penata musik. Tya Subiakto merupakan perempuan kelahiran tahun 1979 yang menjalani karir sebagai komposer, konduktor, penata musik, dan juga sutradara film Indonesia. Ia merupakan orang ‘di balik layar’ sehingga mungkin RulaWoman tidak familiar dengan nama ataupun wajahnya. Menariknya, Tya sudah diundang dalam beberapa talkshow di stasiun tv untuk bercerita mengenai pengalamannya menurunkan berat badan.

Seperti diungkapkan Tya, ia senang makan gorengan atau cemilan lainnya saat bekerja. Sebagian besar pekerjaannya yaitu menata musik tidak mengharuskan Tya ke luar ruangan, mungkin ia bisa di dalam ruangan seharian. Ditambah setelah hamil memang ia tidak mudah menurunkan berat badan. Sampai suatu hari, setelah rapat, Tya Subiakto tidak dapat bangun dari tempat duduknya dan merasakan sakit di area perut. Ia kemudian mengunjungi internis dan ternyata livernya sudah tertutup lemak. Hal tersebut tentunya dapat mengganggu kesehatan dan berisiko tinggi menjadikan ia pesakitan, karena berat badannya yang berlebihan.

Demi anak-anaknya, Tya Subiakto merasa ia harus sehat. Tentunya tidak hanya melalui obat namun dengan menjalani pola hidup, termasuk pola makan yang benar. Akhirnya Tya Subiakto mengungkapkan 5 No Rules yang ia aplikasikan mehari-hari hingga beratnya turun empat puluh kilogram dalam 1,5 tahun. Tadinya berat Tya 92 kg dan sekarang menjadi 52 kg.

sumber foto tipsdiet.net

1. No Nasi

Tya Subiakto merasa ia perlu menghindari nasi karena ia merupakan keturunan penderita diabetes. Tentu kamu boleh menghindari nasi, tapi perlu diingat dalam sehari tubuh kita memerlukan karbohidrat sebanyak 65%. Nasi tidak membuat tubuh gemuk seketika kok, kecuali jika mengonsumsi nasi secara berlebihan. Salah satu sumber karbohidrat ialah nasi. Jika memang ingin menghindari nasi karena kandungan gula didalamnya, kamu dapat berhalih pada karbohidrat yang mengandung banyak serat seperti kentang, umbi-umbi-an, atau havermut.

2. No Minyak

Kamu pasti tahu kalau salah satu yang menyebabkan kegemukan adalah lemak berlebihan, bukan? Tapi tetap perlu diingat bahwa pada kadar tertentu, tubuh kita membutuhkan lemak. Makanan yang mengandung lemak tersusun dari asam lemak. Asam lemak terdiri atas asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Konsumsi asam lemak jenuh dapat meningkatkan kolesterol dalam darah dan memicu penyakit jantung. Sedihnya, minyak yang kita konsumsi sehari-hari alias minyak sawit itu 50% tersusun dari asam lemak jenuh. Disamping itu, minyak sendiri sudah mengandung kalori loh. Jika ingin beralih pada minyak yang asam lemak jenuhnya rendah, bisa memilih minyak kanola atau minyak jagung. Pada dasarnya, banyak makarna yang kita suka membutuhkan minyak dalam pembuatannya bukan? Ohiya, tapi harga minyak kanola dan minyak jagung lebih mahal.

3. No Gorengan

Ya minyak sawit saja kalau berlebihan akan meningkatkan kalori dan asam lemak jenuh, apalagi gorengan. Nah, untuk yang hobi ngemil gorengan mungkin bisa beralih ke buah potong seperti Tya Subiakto.

4. No Santan

Dikutip dari klikdokter.com, santan, terutama jenis yang rendah lemak, boleh dikonsumsi dalam jumlah yang sewajarnya (1-2 kali per minggu). Namun jika RulaWoman sangat suka makanan yang mengandung santan, wah hati-hati tentu dapat merusak pola makan yang baik.

5. No Gula

Konsumsi gula akan memicu produksi lemak di dalam tubuh. Gula bersifat adiktif, yang membuat kita kecanduan dan rendering merasa velum kenyang. Pada dasarnya buah pun mengandung gula, namun kandungan gula pada buah yang bernama fruktosa lebih baik untuk dijadikan cemilan jika dalam sehari sudah banyak mengonsumsi makanan manis.

sumber foto blackdiamondbuzz.com

Nah itu tadi 5 hal yang dijalankan Tya Subiakto ditambah penjelasan dari penulis hehe. Dalam sebuah acara talkshow, Tya mengungkapkan bahwa ia tidak terlalu banyak berolahraga lebih sering stretching saja agar tube ‘tidak kendor.’ Berikut adalah rangkuman pola makan Tya Subiakto.

  • Menu Pagi Hari: Satu buah lemon dippers, lalu airway diminum langsung tanpa ditambahkan apapun. Setelah itu minum jus pepaya, tomat, nanas, apel, dan wortel, masing-masing satu gelas dan hanya ditambahkan air dalam pembuatannya. Lalu diakhiri air putih.
  • Menu Siang Hari: Cenderung bebas, namun menerapkan 5 No Rules tadi. Ya bisa saja makan steak yang dibakar, atau mudahnya makan makarna yang direbus atau dikukus.
  • Menu Malam Hari: Cenderung sama dengan pagi hari, yaitu konsumsi jus yang dibuat tanpa gula sama sekali. Terserah jus apa saja.
  • Dalam satu minggu, Tya Subiakto menyiapkan hari Minggu sebagai cheating day untuk makan bebas agar tubuh dan nafsu makannya tidak ‘merasa dipenjara.’

Itu dia hal-hal yang membuat Tya Subiakto sukses turun 40 kg dalam 18 bulan. Semoga yang punya target turun berat badan segera tercapai ya 🙂

Advertisements

I watch this on Saturday and I cried

“Somehow I realised my mother gives me the so called unconditional love. Because my choices always up to me, she never really forced me into anything. She nourished me, feed and watered me, so I can stand up because I am fully equipped with almost whatever I need.” – 12.23 on LINE chat.

A friend of mine told me to watch a ted video about over-parenting. I cried after seeing the video. I was moved and I recap all episodes of my life until now. Then I realized I can’t be more proud of my mom. She never forced me to become what she wants, she gives me advices and never doubt my choice even though it is something different.

Julie Lythcott-Haims: How to raise successful kids without over-parenting

You should watch this too. Hope you’ll find it inspiring 🙂

Satu Hal yang Ingin Saya Terapkan Saat Menjadi Ibu

Ada satu hal yang saya ingin tulis sejak kira-kira satu tahun yang lalu, namun selama ini hanya berputar dalam pikiran saya saja. Alhamdulillah, hari ini saya berkesempatan untuk menulis di jurnal pribadi saya ini. Saya dan kamu tahu pasti betapa orang tua sayang pada anaknya. Betapa inginnya orang tua memenuhi apa yang diinginkan anaknya dan alangkah sedihnya saat mereka tidak bisa memenuhi hal yang diinginkan anaknya tersebut. Setuju? Mungkin pada beberapa kasus khusus tidak terjadi seperti itu.

Coba pikirkan bagaimana kebaikan orang tua kamu selama ini, mana keinginanmu yang tidak berusaha mereka penuhi selagi bisa? Mana keinginanmu yang awalnya dibilang “Tidak” namun akhirnya dikabulkan dan betapa senangnya kamu saat itu. Alhamdulillah untuk semua rezeki yang Allah Swt alirkan melalui usaha penuh peluh orang tua kita. Begitu juga dengan orang tua saya, keinginan saya yang mana yang tidak mereka usahakan? Terlebih jika saya belajar dengan benar, memenuhi ‘kriteria’ anak baik versi mereka, tinggal bilang saja maka keinginan akan dipenuhi. Bukankah kamu begitu pula?

Keinginan kita kadang berupa kebutuhan emosi yaitu kasih sayang, tapi selain itu ialah materi. Ya, materi. Lingkungan pergaulan membuat saya menginginkan beberapa hal seperti tas Jansport terkini, dress muslim cute beli di HijUp, jalan-jalan ke mal, dan lain sebagainya. Coba selama ini apa yang kamu minta ke orang tua? Baju? Sepatu? Kamera? iPhone? Puma? Gucci? The Body Shop? Ada-Ada saja yang kita inginkan mulai dari karena memang butuh, sampai antara butuh atau tidak tapi disimpulkan butuh saja. Benar? Kamu yang bijak ya in sha Allah tidak seperti saya yang labil ini.

rupiah

Sumber gambar dari sini

Segala pemenuhan keinginan yang berupa barang-barang atau kebutuhan liburan tersebut dipenuhi oleh satu hal yang kalau kata Zig Ziglar “bukan segalanya, tapi kita membutuhkannya seperti kita membutuhkan oksigen.” Apa coba? Yes, uang also known as duit. Cara orang tua memberikan uang pada anaknya tentu melalui metode yang berbeda-beda.

Saya diberikan uang per hari, bukan per bulan. Saya biasanya diberikan Rp 35.000 untuk biaya transportasi dan jajan sehari-hari. Alhamdulillahnya, orang tua saya baiknya tidak kira-kira. Ya sejumlah tersebut memang diberikan setiap hari. Tapi kalau saya ingin makan makanan yang agak sedikit mahal, boleh saja. Tiba-Tiba saya perlu ketemu seseorang di mal dan harga makanan disana setidaknya di atas Rp 40.000, dibiarkan. Kalau saya random ingin beli hadiah untuk teman saya, dipersilakan. Kalau saya ingin hari Sabtu ke mal, tidak masalah. Saya ingin beli baju terlepas butuh atau tidak, sok atuh lah. Terima kasih pada orang tua saya dan pada kartu debit yang dibekali mereka pada saya.

Selama saya laporan apa yang saya beli, apa yang saya lakukan. Ya walaupun seringnya laporan dilakukan saat pembelian telah terjadi sih. Selama pakaian atau aksesoris yang saya beli dipakai dan tidak dibeli hanya karena “ih lucu, beli ah.” Salama saya yakin hadiah yang saya beli untuk teman saya akan dipakai. Orang tua saya hanya bilang “Kamu nih pakai uang kok boros.” Namun tetap saja kartu debit tersebut diisi kembali dengan uang hasil jerih payah mereka. Saya bukan anak presiden kok yang uangnya berapa kontainer gitu, setidaknya saya dilebihkan Allah Swt akan kecukupan ini.

Poin pentingnya ialah orang tua saya tidak pernah menetapkan ‘uang bulanan.’ Saya hanya diberikan uang harian dan kartu-debit-bebas-pakai-selama-ada-alasan-rasionalnya-yang-kadang-alasannya-tidak-rasional. Iya, jadi kalau beberapa teman mengungkapkan bahwa uang bulanan mereka belum turun, saya tidak pernah benar-benar mengerti. Coba kamu refleksi diri? Apakah manajemen pemberian uang dari orang tua kamu seperti yang saya alami? Setidaknya saya dan beberapa teman terdekat saya mengalami hal yang sama. Orang tua kami tidak pernah menetapkan batas pemakaian uang. Saya mengerti itu karena rasa sayang mereka yang membuat mereka berpikir “Jangan sampai anak gue kesusahan.”

Sayangnya, saya jadi susah menabung. Iya saya bingung, bagaimana menyisihkan uang untuk menabung. Ya bisa sih sebenarnya dari uang harian, tapi kadang uang pecahan kecil sejumlah Rp 35.000 tersebut habis untuk biaya transportasi. Okelah saya bisa hemat. Eh tapi, nanti kalau saya tidak minta beli baju, uangnya tidak keluar. Kalau saya tidak request beli ini itu, ya uangnya juga tidak keluar. Secara uang pasti yang saya terima hanya uang harian tersebut, uang lainnya keluar jika saya sudah meminta. Kalau saya menabung berdasarkan jumlah saldo pada kartu debit? Tapi kan itu uang orang tua saya, nanti menabungnya wajar kalau banyak jumlahnya.

moneyquotes-002

Sumber gambar dari sini

Ya saya jadi bingung. Mau hemat juga untuk apa? Toh, kalau saya ingin sesuatu baru uang keluar, kalau saya tidak ingin apa-apa justru tidak ada uang keluar. Mau menetapkan tips cerdas finansial “alokasikan 20% pemasukan kamu untuk menabung sebelum untuk yang lain” juga susah. Lah, pemasukan saya yang mana coba? Yang Rp 35.000 itu? Atau yang Rp 35.000 ditambah keinginan-keinginan saya yang lain? Ya tinggal tabung saja dulu 20% dari uang harian yaitu Rp 7.000. Iya tidak? Eh tapi kan uang pemasukan saya sebenarnya lebih dari itu, secara pengeluaran saya masih bisa terpenuhi, berarti uang tabungan bisa lebih banyak bukan? Benar kan ya? Voila! Ujungnya saya tidak menabung-menabung.

Alhamdulillah, sejak awal 2016 saya mulai bisa menabung.

Cara Menabung Ita Sejak 2016

  • Saya rencanakan dulu apa yang ingin saya beli. Misalnya saya ingin membeli sepasang sepatu.
  • Saya cari tahu berapa harga sepatu yang saya mau baik jika sepatu tersebut diproduksi high-end brand tertentu  maupun dari brand lokal yang harganya bersahabat hingga brand lokal yang harganya mahal. Lalu saya putuskan berapa budget yang saya minta. Misalnya harga jenis sepatu yang saya inginkan paling murah Rp 150.000 dan paling mahal Rp 1.000.000, lalu saya ‘berkaca’ pada rata-rata harga sepatu yang saya miliki. Akhirnya saya putuskan untuk mengajukan permintaan budget beli sepatu sebesar Rp 600.000 pada orang tua saya. Lalu terserah orang tua saya akan mengizinkan atau tidak, bisa saja menginzinkan namun budgetnya dikurangi.
  • Setelah kesepakatan budget disetujui, saya akan berupaya semaksimal mungkin membeli sepatu yang saya suka dengan harga dibawah budget yang saya punya.
  • Voila! Sisanya akan langsung saya masukkan pada kaleng tabungan. Alhamdulillah.

 

Itulah cara saya menabung, jadi bukan butuh barang langsung beli. Tapi direncanakan dahulu dan dibuat budget pembeliannya. Apalah cara menabung saya yang mungkin terlihat biasa saja ini. Ya apalah saya dibanding kamu yang sudah menabung dari dari TK. Saya juga bersyukur akan bagaimana orang tua saya memberi uang selama ini, karena dari situ saya belajar. Saya belajar bahwa memberi batasan akan pemberian uang pada anak ialah hal yang penting. Agar anak dapat memproyeksikan bagaimana cara berhemat, kebutuhan apa yang harusnya tidak dibeli jika ingin membeli yang lain. Mungkin memang akan kompleks mengenai berapa jumlah uang bulanan untuk anak dan pada pos kebutuhan apa saja uang tersebut berlaku, tapi saya rasa manajemen pemberian uang bulanan ialah suatu keperluan penting. In sha Allah saya dan kamu yang membaca ini akan menjadi calon Ibu serta Ayah yang bijak dalam mengelola keuangan ya 🙂

Untuk Dibaca, Tidak Untuk Dicontoh: Shinzui dan Permintaan Maaf

Entah pada hari apa yang saya lupa, saya dan Dhea (sahabat saya) pergi ke Lotte Mart di Kuningan City. Dhea ingin membeli sesuatu yang kata dia cuma ada di Lotte Mart. Layaknya perempuan-perempuan pada umumnya, saya dan Dhea juga kalau pergi kemana-mana saling menemani satu sama lain. Setelah mendapatkan produk yang Dhea inginkan, saya adn Dhea berjalan menuju rak produk perawatan kulit karena saya ingin membeli Natur-E Face Cream. Anyway saya rasa produk Natur-E Face Cream bagus, tidak ada efek membuat kulit wajah lebih putih sih. Tapi tekstur krimnya ringan dan tidak terlalu membuat wajah (saya yang sudah cenderung berminyak) tambah berminyak.

Saat saya bersama Dhea, biasanya mood saya jadi lebih santai. Bahkan jadi cenderung sering bercanda atau ganggu Dhea. Dhea sih sudah biasa. Termasuk saat di Lotte Mart, sepanjang berjalan menyusuri rak-rak, saya bicara melulu, tertawa, bercanda terus. Sebelum sampai di rak yang saya dan Dhea tuju, ada seorang Sales Promotion Girl (SPG) yang menghampiri. Mbak SPG tersenyum ramah dan menyodorkan sebuah produk terbaru dari merek Shinzui. Begini pembicaraan yang terjadi antara saya (S) dan Mbak SPG (M).

M: Permisi Kak, Shinzui lagi ada produk terbaru loh.

S: (berhenti untuk mendengarkan, masih sambil bercanda sama Dhea)

M: Jadi ini lulur dari Shinzui, mudah pemakaiannya. Hanya tinggal dioleskan lalu digosok saja, maka kotoran akan terangkat Kak. Tidak perlu pakai air loh. Bisa dipakai dimana saja. (Mbak SPG ramah sekali)

S: Wah gitu ya Mbak. Nanti kalau dipakai dimana saja, ih itu saya jadinya ngotor-ngotorin tempat dong ya. Hahaha (ini masih terbawa mood bercanda dengan Dhea)

M: Eh…hem iya sih Mbak. Saya kadang pakai saat perjalanan di mobil, ya agak bikin kotor sih hehe.

S: Nah itu dia Mbak. Nanti kotor dong ya dimana mana. Ahahaha (ini masih ketawa hasil kebanyakan bercanda sama Dhea.)

Lalu saya dan Dhea kembali berjalan bersisian menuju rak produk perawatan kulit. Eh, saya tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Ira, sesuatu. Rasa-rasanya kok ya saya telah melakukan kesalahan. Sepanjang mata menyusuri nama-nama produk di rak, saya berpikir apa hal yang membuat perasaan saya itu ‘nggak enak’ ya. Hem. Mata saya berhenti pada sebuah produk, masuklah Natur-E Face Cream kedalam keranjang belanja. Ting Tong! Saya rasa saya tahu apa yang rasanda mengganjal ini. Lalu saya tanya Dhea.

“Dhe, tadi gue jawabnya nggak bagus ya?” Maksudnya saat saya menjawab penawaran Mbak SPG.

Lalu Dhea mengangguk dengan wajah yang saya kategorikan serius. Lalu saya bertanya lagi.

“Harusnya gue nggak ngomong kayak gitu ya tadi, Dhe?”

Dhea menjawab ,”Iya Ta.”

Astagfirullahaladzaim. Kelakuan saya tuh ya. Kebanyakan bercanda, kebanyakan tertawa. Sampai tidak sadar kalau seharunya merepons orang yang ramah bukan seperti tadi. Ya terlepas dari memang SPG harus tersenyum ramah, tapi kan saya bisa merespon dengan lebih baik. Terus saya menjadi tidak mood bercanda lagi. Saya diam saja telama 2 menit sementara Dhea sedang melihat-lihat produk perawatan kulit. Lalu saya bilang “Dhe, gue mau minta maaf, terus gue beli aja shinzui-nya. Temenin yuk.” Lagipula memang saya tidak pernah punya stok lulur, seringnya memakai lulur milik Mama. Saya pun berjalan menuju tempat tadi bertemu Mbak SPG. Mbak SPG sedang berdiri dekat rak yang berisi lulur badan.

S: “Mbak, aku minta maafnya tadi jawabnya kayak gitu.”

M: “Eh gapapa kok Mbak.” Mbak SPG masih tersenyum ramah.

S: “Iya, aku kebanyakan bercanda Mbak. Jadi kebablasan gitu deh.”

M: “Ih Mbak, beneran gapapa.”

S: “Mbak aku mau beli ya lulurnya satu.”

M: “Eh beneran nah Mbak?”

S: “Hehe, iya Mbak?”

M: “Ini wanginya ada dua Mbak. Ini best seller loh waktu saya di Giant.”

Shinzui Body Scrub.jpg

Shinzui Body Scrub Adzuki Beans

Lalu obrolan mengenai produk lulur shinzui tersebut menjadi lebih panjang dari yang saya rencanakan. Keranjang belanja pun bertambah satu produk lulur shinzui. Alhamdulillah, saya pun telah menghaturkan maaf pada Mbak SPG. Ya tadi sebenarnya saya malu untuk kembali ke Mbak SPG dan minta maaf. Malu, padahal sepertinya saya lebih terpelajar tapi kelakuan kok ya tidak elegant. Maka respon burok saya kepada Mbak SPG tidak untuk dicontoh, jelas itu. Setidaknya sudah saya perbaiki sebisa saya. Semoga perilaku kurang baik ini tidak saya ulangi pun dan saya yakin kamu yang membaca ini pasti lebih baik dari saya 🙂

 

 

 

 

 

 

6 Aplikasi Agar Kamu Menjadi Kekinian dengan Teknologi

teknologi/tek·no·lo·gi/ /téknologi/ n 1 metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan; 2 keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia

Betapa bersyukurnya saya menjadi manusia di abad 21 ini. Teknologi dan segala kemajuan ilmu pengetahuan membuat hidup lebih mudah. Membuat saya menjadi hemat waktu dan hemat tenaga. Saya yakin kalau pemanfaatan media sosial seperti Whatsapp atau LINE, sudah banyak peminatnya.

Mari saya ceritakan pemanfaatan teknologi selain sosial media yang saya pakai sehari-hari.

1. Google Calendar

Screenshot_2016-05-06-23-38-01.png

Bukan cuma artis papan atas (dan papan bawah) yang bisa punya manajer. Saya dan kamu juga bisa, percaya tidak? Coba deh unduh Google Calendar. Aplikasi tersebut membuat jadwal sehari-hari kamu lebih teratur. Kalau saya ringkas, begini setidaknya cara kerja Google Calendar.

  • Kamu masukkan jadwal sehari-hari kamu. Nama kegiatannya apa, tanggal berapa, pukul berapa, hingga dimana lokasinya.
  • Kamu bisa mengaktifkan notifikasinya, sehingga kamu akan ‘diingatkan’ jika kegiatan kamu sebentar lagi dimulai. Lihat gambar di bawah.

Screenshot_2016-05-06-23-43-46.png

  • Kamu bisa mengatur jadwal kamu dan kapan ingin diingatkan (diberi notifikasi) serinci mungkin.

Jadi tidak ada lagi ya alasan lupa akan suatu kegiatan. Google Calendar juga memungkinkan kamu berbagi jadwal dengan temanmu, hingga memakai fitur pencari waktu luang yang sama untuk dua jadwal seseorang yang ingin membuat janji. Untuk pasangan posesif, bisa mungkin saling share jadwal Google Calendar biar tidak tanya melulu “kamu lagi dimana, sayang?” #EH. Canggih bukan?

2. Go-Jek

Ya saya tahu kalau kita bisa pakai Uber atau Grab untuk memudahkan transportasi sehari-hari. Bukan juga karena nasionalisme sih saya pakai Go-Jek. Tapi saya pakai Go-Jek karena ada fitur Go-Pay. Yeah! Alhamdulillah. Jadi Go-Pay itu semacam deposit uang, supaya saat memakai layanan Go-Jek, kita tidak perlu lagi mengeluarkan uang kertas.

Screenshot_2016-05-06-23-36-06

Hal yang menyenangkan ialah mudahnya pengisian Go-Pay. Hanya tinggal ke ATM terdekat, tekan nomor telepon genggam, dan voila! akun Go-Pay kita pun terisi. Sekarang juga ada Go-Car, jadi kalau cuaca panas, bisa order mobil. Syalalalala. Kalau Uber harus pakai kartu kredit yang mana saya hanya bisa pinjam kartu kredit Mama. Memang bisa pakai cash untuk Uber dan Grab, halah malas saya buka dompet. Pilih yang praktis saja deh.

3. iJakarta

Siapa yang suka baca novel? Itu loh, maksud saya novel cinta-cintaan antara dua anak manusia. Kamu salah satunya? Merasa tidak, kalau harga buku dari tahun ke tahun makin naik. Dulu saya beli komik Rp 8.500 ealah sekarang jadi Rp 15.000, sakitnya tuh disini. Begitupun dengan novel, harganya makin melonjak seperti berat badan, #EH.

Tenang ya, tarik napas dalam-dalam karena pemerintah DKI Jakarta telah meluncurkan aplikasi iJakarta yang bisa kamu unduh di PlayStore. Aplikasi iJakarta ialah perpustakaan digital untuk beberapa buku dan novelnya banyak loh. Saya dan kamu bisa baca novel melalui smartphone. Yuhuu senang sekali, hemat uang jadinya.

Screenshot_2016-05-06-23-36-49

Tapi saya sekarang sudah tidak sering baca novel cinta-cintaan seperti dulu. Kebanyakan baca novel bikin saya jadi artis, penuh drama gitu, bawaannya melankolis. Mending akika baca Al-Quran lah ya #refleksi diri.

4. Google Drive, Google Docs, Google Sheets

Hari ini itu sudah jamannya berbagi dokumen baik yang formatnya doc. maupun xls. melalui email atau Whatsapp. Kadang saya perlu melakukan edit dokumen baik karena buru-buru ingin mengirim dokumen tersebut atau memang ingin edit saja sebelum lupa. Aplikasi Google Drive memungkinkan saya untuk berbagi dokumen dengan teman-teman, ya sejenis DropBox atau Evernote gitu.

Selanjutnya, saya bisa langsung edit dokumen tersebut dengan aplikasi Google Docs atau Google Sheets. Ya edit melalui smartphone, tidak perlu itu yang namanya buka laptop. Sambil panas-panasan di ojek lalu edit dokumen juga hayukkk. Ih asyik bukan?

5. Qibla Connect

“Maaf Mbak, kiblatnya kemana ya?”

Itu biasanya yang ditanya ke resepsionis kalau di kamar hotel tidak ada petunjuk arah kiblat. Bagaimana kalau hotelnya di luar negeri? Ya kalau kamu sedang menetap di hotel yang berlokasi di Dubai sih lain cerita. Tapi kalau resepsionisnya tidak tahu apa itu kiblat bagaimana? Masa sesi bertanya jadi sesi kultum (kuliah tujuh menit) tentang apa itu kiblat?

No worries deh ya! Cukup buka PlayStore dan unduh aplikasi arah kiblat. Kalau yang saya unduh namanya QiblaConnect. Mudah kok penggunaannya.

Screenshot_2016-05-06-23-38-17

6. Google Maps dan Waze

Era teknologi itu ialah era kemandirian, kamu sudah tidak perlu tanya sana-sini, lah kamu kan bisa googling gitu. Tapi efek buruknya sih dalam beberapa hal, kita jadi kurang dalam komunikasi langsung. Nah, biasanya kalau saya ingin pergi ke suatu tempat yang saya tidak tahu, saya langsung buka aplikasi Google Maps untuk tahu sejauh apa jarak perjalanan yang akan ditempuh serta tempat-tempat dekat lokasi yang bisa dijadikan acuan.

Kalau saya rasa dekat stasiun, ya saya usahakan menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek. Kalau saya rasa menggunakan Transjakarta lebih mudah, maka saya googling rute Transjakarta. Kalau saya rasa lebih praktis menggunakan mobil, saya buka aplikasi Waze untuk melihat dimana area yang macet.

Screenshot_2016-05-06-23-39-36

Tuh ya, hidup ini mudah sekali bukan dengan adanya teknologi? Mari sama-sama kita ucapkan terima kasih pada Tuhan Yang Maha Esa karena anugrah ilmu pengetahuan ini, serta terima kasih untuk orang-orang pintar yang meramaikan kemajuan teknologi di Indonesia dan dunia. Tanpa kalian, aku mah apa atuh, masih harus jalan ke pangkalan ojek kalau butuh ojek. Iya tidak? Hehe.

Alasan-Alasan Tidak Perlu Luluran ke Salon yang Muslimah Harus Tahu

Peringatan: Tulisan ini dibuat tanpa ada niat sedikitpun menyinggung pihak yang memiliki bisnis salon dan bekerja di salon.

Hari Sabtu atau Minggu biasanya dihabiskan untuk quality time baik dengan keluarga, teman, atapun diri sendiri. Quality time dengan diri sendiri yang dilakukan oleh perempuan tentu bermacam-macam, ada yang membaca novel, ada yang berlatih memasak, ada juga yang memanjakan diri ke salon.

Saat perempuan ke salon banyak pilihan perawatan diri yang bisa dipilih dari perawatan rambut seperti creambath, hair mask, hair spa. Lalu ada perawatan wajah seperti facial, totok aura, ada juga perawatan tubuh seperti lulur dan body spa. Biasanya banyak perempuan yang suka dilulur di salon atau melakukan body spa. Katanya sih simpel, tinggal diam, bayar tidak terlalu mahal, dan…….voila! Akhirnya badan pun bersih serta wangi.

9cf0576f1195c3ac12033bebbcb599d7

Biasanya habis perawatan di salon lanngsung berasa cantik akika, sumber gambar dari sini.

Namun, setelah saya pikirkan kembali ternyata seharusnya saya tidak melakukan perawatan badan seperti luluran dan body spa di salon. Jujur saja, sebagai muslimah saya paham bahwa menutup aurat adalah kewajiban dan membuka aurat hanya diperbolehkan pada orang-orang tertentu itupun tidak boleh terbuka seluruhnya, kecuali pada suami. Nah, kamu yang perempuan pasti tahu lah ya bagaimana proses dilulur atau body spa. Disitu saya merasa galau. Sehingga hari ini saya memutuskan tidak jadi ke salon.

Untuk yang masih ingin tahu mengenai batasan aurat perempuan dengan sesama perempuan silahkan baca di Ummi-Online dan situs konsultasi syariah, klik saja ya. Bisa juga baca buku Yuk Berhijab! yang ditulis oleh Felix Siauw, dulu saya juga baca itu.

Inti yang saya bisa simpulkan ialah:

  • Aurat perempuan ialah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, hanya boleh terbuka seluruhnya di hadapan suami.
  • Jika di depan sesama perempuan tampilkan seperti pakaian biasa di rumah. Lengan atas, betis, masih diperbolehkan.
  • Diperbolehkan membuka aurat secukupnya seperti pada poin sebelumnya di depan perempuan non-muslim. Namun, jika takut terkena fitnah, boleh saja membuka kerudung, namun pakaian tidak terlalu ketat dan terbuka.
*Catatan: pada tulisan selanjutnya saya akan menyebut online dengan bahasa Indonesia yaitu dalam jaringan, misalnya KBBI online menjadi KBBI dalam jaringan.

Ternyata setelah saya pikirkan lagi, memutuskan untuk tidak ke salon untuk luluran atau body spa adalah hal yang baik karena 3 alasan ini.

1. Sama sekali tidak efektif dan efisien.

Awalnya saya pikir luluran di salon lebih efektif dan efisien, toh tinggal membayar beberapa rupiah saja, saya tidak perlu repot dan akhirnya badan terawat. Ternyata tidak saudari-saudari. Mari kita main hitung-menghitung setelah saya kutip definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan.

efisien/efi·si·en/ /éfisién/ a 1 tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga, biaya); 2mampu menjalankan tugas dengan tepat dan cermat; berdaya guna; bertepat guna; sangkil;

Luluran atau body spa di salon tidak efisien dari pertimbangan waktu, tenaga, dan biaya.

  • Dari segi waktu, saya akan coba berikan perkiraan waktu yang di habiskan untuk bersiap dari rumah ke salon hingga kembali lagi ke rumah. Akan ada 10 menit untuk siap-siap ke salon + 10 menit pergi ke salon andaikan salon berlokasi dekat rumah + 10 menit mengantri di salon andaikan salon sepi atau datang pagi (setidaknya memesan perawatan di kasir membutuhkan waktu bukan?) + 5 menit melepas pakaian dan masuk ruang perawatan seraya menunggu pekerja salon meyiapkan lulur + 45 menit perawatan lulur sekaligus sauna dan pijat (tentu waktunya bervariasi kadang minimal 1 jam hingga 2 jam) + 10 menit untuk mandi setelah lulur dan memakai pakaian kembali + 5 menit untuk melakukan pembayaran di kasir (pada beberapa salon disuguhkan minuman seperti wedang jahe secara cuma-cuma setelah perawatan) + 10 menit untuk kembali ke rumah. Selesai sudah estimasi waktu paling minimal dengan total waktu yang dihabiskan adalah 1 jam 35 menit. Waktu tersebut pun ialah estimasi minimal, terlepas dari lokasi salonnya tidak dekat, mengantri di salon, dsb.

Bisa loh dicoba luluran di rumah! Kamar mandi jelas tidak sejauh salon, kalaupun mengantri, ya antrian kamar mandi tidak selama antrian salon, bahkan untuk melakukan lulur sendiri paling lama mungkin 30 menit. Tidak percaya? Coba dulu saja. Maka kamu akan save 1 jam yang kamu miliki untuk melakukan hal lain yang lebih bermanfaat dibanding kamu ke salon.

  • Dari segi tenaga, ya saya setuju kok kalau luluran di salon menghemat tenaga kita dan menggunakan tenaga orang lain untuk perawatan tubuh. Tapi coba deh dipikirkan, untuk jalan kaki atau menunggu angkot atau menyetir mobil ke salon sudah butuh tenaga, kalau ternyata antri di salon cukup lama terlebih di akhir pekan ya akan menghabiskan tenaga juga. Bosan kan menunggu dengan main handphone atau membaca majalah?

Kalau kamu sudah memiliki keinginan untuk luluran di rumah, mungkin kamu ragu karena luluran di rumah akan sedikit melelahkan. Jelas, karena kita sendiri yang membasuhkan minyak zaitun dan lulur ke seluruh tubuh. Lalu kita juga yang menempelkan lulur dan menggosoknya sendiri. Jelas tangan akan pegal, setidaknya saya merasa begitu. Ingat menggosok lulur di tubuh tidak seperti menimba sumur, ya kalaupun tangan pegal ya tidak akan terlalu sakit. Setelah luluran selesai, saya merasa tangan saya biasa saja tidak sakit apapun.

  • Dari segi biaya, saya akan coba berikan dua perkiraan biaya yang dikeluarkan seorang perempuan yang melakukan lulur atau body spa di salon. Akan diperlukan Rp 0 untuk ke salon jika salon dekat rumah atau Rp 10.000 jika salonnya jauh namun menggunakan ojek dalam jaringan + Rp 60.000 sebagai biaya perawatan lulur (harga tersebut merupakan yang paling murah di Salon Sari Tebet, salon yang menurut saya terkenal bagus dan terjangkau secara harga) atau Rp 135.000 sebagai biaya body spa (harga tersebut merupakan body spa paling murah di Salon Sari Tebet) + Rp 0 untuk kembali ke rumah atau Rp 10.000 untuk pulang ke rumah menggunakan ojek dalam jaringan. Terlepas dari transportasi ke salon ternyata menggunakan taksi, biaya perawatan yang lebih mahal, hingga membeli minuman atau makanan di salon, maka total uang yang dihabiskan untuk sekali perawatan ialah Rp 60.000 atau Rp 135.000. 

Kalau kamu luluran di rumah maksimal hanya perlu Rp. 50.000 untuk sebulan atau bahkan kurang jika kamu membeli lulur Pradasari dan Minyak Zaitun, kamu bisa cek harganya.

Coba saya berikan perkiraan penghematan dengan biaya perawatan Rp 60.000 atau Rp 135.000 tadi. Jika kamu satu kali setiap bulan ke salon, maka dalam satu tahun menghemat Rp 720.000 atau Rp 1.620.000. Jika kamu dua kali setiap bulan ke salon, maka dalam satu tahun menghemat Rp 1.440.000 atau Rp 3.240.000. Kalau kamu perawatan sendiri di rumah mungkin satu tahun hanya perlu Rp 550.000 bahkan kurang. Bayangkan uang yang bisa disimpan untuk kebutuhan lain yang lebih penting. Terlebih untuk orang seperti saya yang masih bergatung secara finansial pada orang tua, jelas hemat itu perlu.

efektif/efek·tif/ /éféktif/ a 1 ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya); 2 manjur atau mujarab (tentang obat); 3 dapat membawa hasil; berhasil guna (tentang usaha, tindakan); mangkus; 4 mulai berlaku (tentang undang-undang, peraturan);

  • Setiap perempuan tentu menginginkan tubuh yang terawat dengan baik, maka alasan luluran atau body spa ke salon ialah keinginan dan harapan untuk tubuh yang lebih indah dan wangi. Begitu bukan? Kita menginginkan efek atau hasil berupa tubuh yang terawat, tidak kusam, tidak kotor, tidak bau. Apakah kalau setiap bulan hanya sekali ke salon akan ada efeknya? Jelas ada, secara jangka pendek. Lalu supaya efeknya jangka panjang berarti harus ke salon lebih sering gitu ya? Boleh saja, tapi ingat kembali pertimbangan waktu, tenaga, dan biaya. Saya yakin setiap perempuan tahu kalau merawat tubuh tidak hanya dari luar, tapi juga dari dalam. Maka tubuh yang terawat tidak hanya dari satu aspek yaitu perawatan tubuh di salon, melainkan juga pola makan, pola tidur, tingkat stress, dsb.
pink-sugar-scrub-diy-thechic2

Scrub buatan dari gula bisa dibuat sendiri di rumah loh, sumber gambar dari sini.

2. Terhindar dari potensi pekerja salon yang memiliki disorientasi seksual.

Salah seorang senior saya bercerita bahwa ia bercita-cita membuka salon. Ia ingin mengikuti jejak ayah dan neneknya yang seorang pengusaha. Namun ternyata, neneknya tidak setuju akan cita-cita tersebut.

“Loh Kak, kenapa neneknya nggak setuju?”

“Iya, soalnya katanya kita nggak akan tahu kemungkinan kalo ada pekerja yang lulur gitu ternyata penyuka sesama jenis.”

“Eh kok ekstrim sih….ih… tapi ya bener sih ya, ngeri juga Kak.”

“Iya tadinya gue juga nggak kepikiran sampe sana. Tapi kalau gue pikir-pikir lagi ya ternyata nenek gue ada benarnya juga. Kemungkinan pekerja perempuan di salon itu penyuka sesama jenis bisa jadi ada, dan pasti bakalan susah banget mendeteksinya. Terus gue ngebayangin kan kalau lulur itu badan kita dipijat…..hiii…ngeri juga gue jadinya.”

Ekstrem juga ya pemikirannya. Bukan bermaksud berprasangka buruk, tapi ya nenek senior saya benar juga. Kalau menurutmu bagaimana?

Ya itu semua murni pemikiran saya yang bisa saja salah. Tentu ada yang berpikir bahwa perawatan tubuh itu investasi, aset berharga, tidak bisa dihitung sebagai biaya. Ada yang rela bahkan menghabiskan 10 juta lebih untuk perawatan tubuh. Ya sangat diperbolehkan, karena kita sendiri kan yang menjalani hidup kita dan memutuskan pilihan masing-masing bukan? Walaupun uang kita berlebih, menganggap perawatan tubuh di salon efektif dan efisien jelas belum tentu. Ya mungkin bisa disiasati dengan ke salon pagi hari dan memilih salon dekat rumah. Ingat setiap hal membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya, apalagi perkara ke salon ini. Hehe.

Usaha merawat diri jelas penting dan yang tidak kalah penting adalah ‘menjaga’ hati, makanya kita kenal inner beauty.

sharp34-true-beauty-in-a-woman-is-reflected-in-her-soul-sharp34-audrey-hepburn-sharpquote

Tante Hepburn setuju sama inner beauty, sumber gambar dari sini.

Akhir kata, saya ingin mengatakan bahwa sulit sekali bagi saya untuk meninggalkan kebiasaan luluran atau body spa di salon. Alhamdulillah, saya diberikan rezeki bisa ke salon sejak SD. Lalu saya mulai luluran sejak SMP. Kalau ditanya bagaimana rasanya luluran atau body spa, jelas asyik, wangi, tubuh nyaman dipijat. Alhamdulillah nya lagi, saya sadar bahwa melakukan luluran atau body spa membuat aurat jadi tampak dan Allah Swt tidak menyukai perempuan yang tidak menutup aurat. Maka dengan susah payah saya dahulukan apa yang Allah Swt inginkan. Saya muslim, maka gaya hidup Islam adalah hal yang harus saya ke depankan. Saya percaya gaya hidup sesuai Al-Quran dan sunah tidak akan pernah menyesatkan.

Semoga tulisan ini bermanfaat ya 🙂

 

Rekomendasi: Mari kukenalkan dengan dr. Gatut Semiardji, SpPD

“Assalamualaikum.” 

Setalah membuka pintu ruang praktik, dokter Gatut menyapa saya. Segera saya jawab salamnya.

“Ada cerita apa hari ini?”

Biasanya dokter Gatut selalu bertanya seperti kalimat di atas. Tolong hindari salah paham bahwa beliau berniat mendengar curhatan kamu ya. Itu adalah cara beliau bertanya apa sakit yang kamu rasakan sekarang.

Tulisan ini dibuat setelah saya berobat dengan dokter Gatut untuk yang ke……….. entahlah. Sudah lebih dari tiga kali saya menemui dokter Gatut untuk berobat, jadi sudah lupa. Saya biasanya menemui dokter Gatut dengan mengunjungi Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina yang berlokasi di Jatinegara.

35a58099e421415b5d8bd0ba1faa4370

Ingat ini saat sakit. Sumber: dari sini.

Suatu kali saat saya sadar bahwa saya mengalami gejala Demam Berdarah Dengue, saya memilih untuk berobat ke Rumah Sakit Premier Jatinegara. Saya sudah mendaftar untuk menemui dokter spesialis penyakit dalam juga. Pada hari itu juga, saya yakin untuk tidak mau ke dokter di Rumah Sakit Premier Jatinegara lagi, saya lebih suka menemui dokter Gatut. Kamu mau tahu kenapa?

Awalnya saya googling mengenai dokter yang akan memeriksa saya. Sambil duduk di ruang tunggu, saya menemukan bahwa dokter yang akan memeriksa saya nanti ternyata satu almamater kampus dengan saya. Berhubung dokter Gatut juga satu almamater kampus dengan saya, saya berpikir dokter yang nanti saya temui akan ramah seperti dokter Gatut.

Kenyataannya, berbeda dengan yang saya kira di ruang tunggu tadi. Yah, dokternya sih tidak bisa dibilang tidak ramah. Tapi saat saya bercerita mengenai sakit yang saya rasa, dokternya justru melihat ke komputer terus menerus. Ya saya sebenarnya mengerti kalau mungkin sistem di Rumah Sakit Premier Jatinegara ingin lebih canggih nan spektakuler dengan menyediakan komputer di ruang periksa. Kenyataannya saya merasa seperti hanya saya sendiri yang peduli penyakit saya, dokternya hanya mendengarkan sebentar untuk menduga pengobatan yang diperlukan, selebihnya mengetik ke komputer. Menurut saya sih tidak menyenangkan, pasien kan sensitif, maunya dimengerti, setidaknya saya begitu.

photo

Foto Dokter Gatut yang ada di Google. Sumber: dari sini

Sekarang mari kuceritakan kenapa aku merekomendasikan dokter Gatut untuk kamu temui saat sakit 🙂

3 Alasan Kenapa Saya Merekomendasikan Dokter Gatut Semiardji

  • Ramah dan care: dokter Gatut itu ramah, raut wajahnya tidak akan bikin kita yang sakit jadi badmood. Saat kamu di ruang periksa kamu akan sadar kalau dokter Gatut mendengarkan keluhanmu dengan tenang, tidak seperti orang yang takut waktu praktiknya habis. Beliau menghargai ceritamu.

  • In-time: dokter Gatut bukan sekadar on-time. Pada hari Sabtu, waktu praktik beliau mulai pukul 10.00, walaupun dapat nomor antrian sepuluh, saya sudah datang. Saya lihat jam di tangan, dokter Gatut sudah masuk ke ruang praktiknya sekitar pukul 09.50 dan pukul 10.00 tepat pintu ruang praktik terbuka. Suster yang membantu dokter memanggil nama seorang Ibu, namun Ibu itu belum datang sepertinya. Berhubung pasien dokter Gatut yang datang baru 3 orang, akhirnya suster itu pun memanggil nama lain “Nona Dian.” Yes! Saya dapat giliran pertama.

  • Menjawab pertanyaanmu: berhubung dokter Gatut itu care dan berhubung saya pasien yang cukup kritis. Biasanya saya bertanya beberapa hal. Lalu dokter Gatut menjawab pertanyaan saya dan jawaban beliau tidak ala kadarnya. Bahkan saat saya bercerita mengenai dokter di Rumah Sakit Premier Jatinegara, dokter Gatut justru bercerita hal yang sama yaitu saat ayahnya berobat ke Pondok Indah dan dokternya juga sibuk melihat komputer

Ohiya, dokter Gatut ini spesialis penyakit dalam ya. Tapi saya biasanya berobat dengan beliau tidak untuk penyakit dalam sih, hehe. Saya membuat tulisan ini sebagai apresiasi terhadap kinerja dokter Gatut. Tidak mudah bukan untuk selalu ramah? Padahal kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam hati dan apa yang telah terjadi. Semoga dokter Gatut selalu disayang Allah Swt dan semoga semua yang sedang sakit segera sembuh ya 🙂

Have you thought the same?

I have some photos I like and I want to post it on instagram or facebook. I can just post it right away, it is my own account anyway. But then, I remember the feeling of seeing someone’s instagram photos and the thoughts that come along the way.

  • When I see a graduation photo: Ugh, I really envy, when will I graduate?
  • When I see a photo of someone travelling to another country: Hem, I really want to go there too, when will I be?
  • When I see a photo of a fashionable hijabers: Wow, that is cool. Hem, I want to try that kind of style, is that acceptable?

Well, unconciously the photo you post on instagram somehow influence people who see it. The photos you post will elaborate people’s mind. It will be great if the things you post influence someone in a good way or make them happy in any way.

I am just afraid if I post a photo. It will influence people in a negative way or make someone is envy. I know I just have to think positively. But I don’t want to be someone who stimulate any bad thoughts first.

Instagram is not my diary. But isn’t it just good to post the good things that happens in our life? I hope I don’t have the desire to show off things I have or things I experience. Because in the end, I will be the one who responsible for my acts.

For those who feel the same as me, I hope Allah Swt ease your feeling and count our thought as a good thing 🙂

Mind your Stress: Menjadi Lebih Baik saat Stres

In the middle of my procrastination time, I am usually looking for some inspirative article or videos to get me motivated, to break this bad habit of me. Beside seeking good advice on the holy Al-Qur’an, I tend to watch some videos on ted.com

There are lots of new information and inspiration on the website. But then, I am a native of Bahasa Indonesia, so it takes more time for me to understand the Ted Talks videos. Back to my effort to get me motivated, I found this video.

Screenshot 2016-02-05 at 17.24.09

The good thing is Kelly McGonigal speaks in a good intonation, not too fast and not to slow. I find it nice to hear the way she speaks. Anyway, there is Indonesian subtitle for this video.

Things to Think from the video.

  • The way I respond toward stress determine the way stress affect me.
  • When your heart beat increase, you are feeling anxious, see it as the way your body helps you to overcome something new, to make you biologically courage.
  • Stress makes me social.

 

Feeling curious about the talks? Watch the video, and get better at stress.

Why Writing Your Story of Being Failed?

Sometimes I think I need motivations or inspiration for a certain condition when I think I feel down because of something. Sometimes I just want to hear people’s sad story mainly about failing on a certain competition, test, or anything. I need that kind of motivation so that I know I ain’t the only one who fails or I ain’t the only one who feel down.

I don’t know if this is true or not, but I find it is not easy to know or to read people’s story about being failed. Now, at the time I am writing this, again I faced such a competitive opportunity in which I failed. So, I make a reflection. I am thinking why people rarely write their sad story about being failed or being declined.

Alhamdulillah, I find the answers. Below are reasons why people rarely write about their story of being failed or decline, at least in my perspective.

  • Bad things are deserved to be forgotten
  • Remembering such a sad experience only makes you sad, you don’t even have the energy to write about that
  • Writing bad things that happen in life makes you merely sad in the process of writing because you have to remember the single and the most crucial moment when you feel down (below the earth, hahaha)

But then, I reflect again. Writing about being declined or being failed is great for some reasons though. Believe me, at first I plan this writing to be about my experience when I failed to get an international internship. But I end up writing this, I feel the urgency to tell my thoughts about writing bad thing in life haha. I think below are reasons why writing your story about being failed is useful.

  • As long as you’re not only nagging in your writing and you’re discovering in what point that you failed, then your story will be great! Lesson learned!
  • You can inspire people by writing the story
  • You can find again in what point that makes you failed and have an understanding why it makes you failed. The best thing is you can learn from it.

Well, I think that’s all my thoughts about why we should reflect the time when we’re being declined. I’ll write about my story right after posting this one hihihihi.

Happy trying with your best!

Surely, Allah Swt has the best plan for us 🙂